Senin, 10 Juli 2017

Motif Tenun NTT Dijiplak, Ini Surat Yang Dibuat Warganet Untuk Pemerintah

Nusa Tenggara Timur begitu kaya akan motif dan corak yang dihasilkan dalam karya tenun ikat. Namun akhir – akhir ini begitu marak penjiplakan hasil karya seni anak bangsa, terutama karya dan motif tenun ikat khas NTT tanpa memberikan penghargaan kepada penciptanya.

Hal ini memicu keresahan dari berbagai pihak. Salah satunya dari Novirius Nggili. Novirius Nggili menuangkan keresahan akan penjiplakan karya tenun ikat asal NTT dari daerah Jepara lewat surat yang ditujukan untuk Gubernur, Bupati dan Walikota, Pimpinan dan Anggota DPRD se NTT, serta Anggota DPD dan DPR RI asal NTT. Surat ini diunggah lewat akun facebooknya pada tanggal 4 Juli sekitar pukul 13:52 · dari daerah Kota Kupang. ·

Status facebook ini mendapat beragam komentar dari warganet. Hingga kini sudah 607 orang yang membagikan/menshare statusnya dan mendapat tanggapan atau komentar 175.

Berikut isi surat Novirius Nggili:

Buat kalian:
Tuan Gubernur,
Tuan Puan Bupati dan Walikota,
Tuan Puan Pimpinan dan Anggota DPRD se NTT,
Tuan Puan Anggota DPD dan DPR RI asal NTT.

Coba dengar isi hati kami ini,
Motif, corak dan warna isi bumi kami,
Diproduksi mesin-mesin berasap,
ditenun masal warga di tanah orang,
dirampok dan dipaten,
Lalu tanpa malu dijual
sebagai motif tenun jepara.

Belum lama sebelum muncul si jepara penjiplak ini, para PNS dan banyak warga NTT berlomba-lomba membeli dan memakai batik motif NTT. Kalian diam tak peduli. Sibuk utak atik anggaran perjalanan dinas.

Waktu Obama, SBY, JOKOWI sampai presenter Mata Nadjwa memakai motif asli kita dilayar TV, semua orang bangga. Namun mengapa kalian diam saat motif-motif itu menjadi batik dan tenun Jepara???

Lalu, kalian sibuk kasak kusuk mengangkat industri kreatif tenun NTT asal ada ongkos perjalanan dinas untuk promosi ke luar NTT bahkan ke luar negeri.

Memang kalian hebat, tak takut kutuk para leluhur yang melahirkan motif-motif itu. BIADAP!!!

Kepada siapa kami bisa mengadu untuk menyelamatkan motif-motif kami ini. Sedangkan HAKI - PATEN hanya untuk individu.

Tolonglah Tuan-Puan, buatlah peraturan daerah atau sejenisnya untuk selamatkan motif dan warna warni kampung kami.

Atau marilah kita bersepakat "PAMALI" membeli dan pakai tenunan si Jepara bermotif NTT itu.

Kami Tunggu.

Wahai kalian yang punya keahlian sejarah, kalian yang ahli hukum, kalian yang hobi menulis,
Bantu kami temukan sepenggal kekuatan untuk sakit hati kami ini, mari selamatkan lukisan isi bumi kita dalam motif dan warna tenun asli NTT.


Surat di atas mendapat beragam tanggapan dari warganet dan mengecam pemerintah yang masah bodoh menanggapai penjiplakan ini.

Sarah Lery Mboeik: Semoga membuka mata para pengambil kebijakan u segera mengurus hak paten motif2 ini

Messah Currye: Setuju dengan bapak Noverius Nggili...b pernah jalan2 ke mall dan banyak yg jualan motif printing NTT tp diakui sebagai motif jepara..saya blg ini dari daerah saya bukan dr jepara!

Ayatul Karimah: Ya om Frits...kok tega ya ...yg lebih parah lagi yg punya gigi jg diam saja seolah gak terjadi apa2...tp walau bagaimanapun yg asli tetap lebih bagus dr yg jiplakan...he he he

Ai Yuningsih: Sedih ya...pdhl aku bukan orang NTT tapi sering banget berkunjung ke NTT dan mengkoleksi kain tenunnya karena ikut bangga dengan tenun NTT

Waty Bagang: Smoga ini menjadi teguran yang nyata untuk membuktikan kita dapat mempertahankan yang menjadi milik kita tetapi bila kita membaca dan menjadi angin lalu maka kita bagian dari mereka yang mencuri dengan berseragamkan srigala berbulu domba.

Feby Nitte: Usul dari saya sbg pelaku UKM NTT. HAKI sdh ada, tp msh skala perorangan. Bisa jd kolektif kalau semua SKPD terkait bersatu mengumpulkan semua atau minimal motif2 utama peninggalan nenek moyang utk di patenkan. Dan jgn lupa, jdkan contoh yg baik sesama kita dgn anti produk printing dan cintai produk lokal. Minimal dimulai dr penertiban seragam PNS, spy bs jd contoh atau trendsetter

Ita Sarina: Setahu saya ibu Rambu istri bupati TTS pernah menginisiasi utk mengurus hak paten motif TTS hanya saja nampaknya rumit dan entah sdh sampai di.mana. mudah2an kita semua bisa peduli dgn kondisi ini.paling tdk menolak membeli atau memakai.motif tiruan NTT yg dibuat di Jepara itu. Saya salah satu org yg paling jijik menggunakan motif tiruan NTT itu.

Saverrapall Corvando: Kalo pengambil kebijakan hanya berpikir soal penggunaan atau sebatas mengagumi tetapi tidak menghayati proses pembuatan dari awal hingga akhir termasuk refleksi akan imajinasi motif yang sangat kaya, maka sampai kapanpun pengambil kebijakan tidak mau ambil pusing alias son toe.... Mesti ada sejenis gerakan advokasi bersama untuk membangun sejenis kesadaran baru yang sifatnya revolutif .

Noverius Nggili: To'o, ternyata TTS su bisa patenkan 29 motif tuh, bahkan sementara siapkan untuk diperdakan... masa yang begini dong sonde ada proses belajar dari pemda lainnya.
Nah, setuju untuk mendesak lembaga yg menerbitkan HAKI untuk Jepara atas motif2 NTT agar mencabut HAKI tersebut.

Eddy Mesakh : Hal lain yg penting dilakukan antara lain menerbitkan buku/semacam.katalog yg menghimpun semua motif tenunan asli NTT. 



Semoga dengan kejadian ini membuka mata pemerintah untuk terus berupaya mencari jalan dalam melakukan sejumlah perlindungan terhadap hak cipta itu agar bermanfaat bagi penciptanya.
Share:

Rangga Kelamaan di Sumba, Ratusan Purnama Akhirnya Meninggalkan Cinta

Pulau Sumba dalam setahun terakhir tidak henti-hentinya menyedot perhatian masyarakat. Hal tersebut ditandai seringnya Sumba digunakan sebagai lokasi shooting film. Film Pendekar Tongkat Emas besutan Mira Lesmana dilakukan disana. Adapun film Marlina Si Pembunuh Empat Babak yang diputar di festival film bergengsi, Cannes di Perancis juga dilakukan di Sumba.

Bahkan hotel terbaik di dunia, Nihiwatu terletak di pulau tersebut. Keindahan alam dan keunikan budaya Pulau Sumba juga menarik banyak artis ibu kota berkunjung. Nah kira-kira siapa saja artis yang seering berkunjung ke Pulau Sumba? Yuk cek ulasan di bawah ini.

1. Ratusan Purnama Meninggalkan Cinta, Mungkin Rangga Kelamaan di Sumba.

Adalah Nicholas Saputra. Artis yang terkenal lewat perannya sebagai Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta. Artis mini kerap menghiasi feed instagramnya dengan keindahan alam Sumba. Mulai dari foto pantai hingga padang savanah. 16 Juni lalu ia kembali memposting foto senja pantai di sekitaran Nihiwatu. Foto tanpa caption itu mendapat 31.601 like.
Senja di Sumba (Instagram @nicholassaputra)
2. Eva Celia Jatuh Cinta dengan Pulau Sumba Setelah Shooting Film
Sabana di Sumba (Instagram @evacelia)
Dara kelahiran 25 tahun lalu ini juga sering berkunjung ke Pulau Sumba loh. Hal tersebut terlihat dari feed instagramnya. Bahkan pada foto dibawah ini ia melukiskan rasa cintanya pada pulau yang terkenal akan Kuda Sandelwoodnya tersebut. Ia menuliskan caption "Rumahku, Rumahmu, Rumah kita. Wherever you are, don't ever forget that. #Indonesia #Sumba".

3. Tara Basro Berharap Memimpikan Pulau Sumba dalam Tidurnya
Lokasi shooting film (Instagram @tarabasro)
Pernah shooting film berjudul Pendekar Tongkat Emas di Pulau Sumba, membuat Tara Basro kepincut. Aktris yang meraih Piala Citra sebagai aktris terbaik tahun 2015 ini memposting foto salah satu lokasi shooting film. Ia pun menambahkan caption, "Pengen mimpiin ini malam ini.. Goodnight.." tulisnya.

Itulah 3 artis yang kerap berkunjung ke Pulau Sumba. Apakah kamu pernah berkunjung ke Pulau Sumba?


Sumber Berita : POS-KUPANG.COM
Share:

Ini Dia Pramugari Cantik Yang Bikin Mario Klau The Voice Klepek - Klepek

Sempat dikabarkan dekat dengan Maria Stela, Mario Klau ternyata sudah gandeng kekasih baru. Dari akun instagramnya, Mario memposting foto bersama seorang perempuan. Foto tersebut diberi caption Kita. Mario pun mentag akun IG perempuan yang berpose bersander di bahunya

Dilihat dari akun instagram, ternyata gadis yang membuat Mario Klau klepek – klepek ini bernama Elisabeth Libels Noya. Perempuan yang berpose bersama Mario tersebut ternyata seorang pramugari salah satu maskapai penerbangan.

Tidak hanya Mario, perempuan itu pun melakukan hal yang sama. Ia juga memposting foto di akun instagramnya. Bahkan gadis berambut pendek tersbeut juga memberikan caption yang sama "Kita" dan mentag akun instagram @marioclau21.


Kedua foto yang diposting di akun masing-masing tersebut pun menuai komentar netizen,

@berindanilovarth: Cieeee selamat ya syg ku! Langgeng ya caaaaa

@jenny_murni_91: So sweet, cocok banget. @marioclau21 dan @elisabethlibels_noya

@dayuanapratiwi: Issh ishhh ishhh lancar toh aigoooooo undangan jangan lupa haha

Wah, semoga langgeng ya. Kayaknya banyak gadis yang pata hati nie. hehee.


Sumber Foto: Akun instagram ELISABETHLIBELS_NOYA dan MARIOCLAU21
Sumber berita: POS-KUPANG.COM/Igo Halimaking
Share:

Minggu, 09 Juli 2017

Kampung Nicholas Saputra Ternyata Di Pulau Komodo

Nusa Tenggara Timur seolah sudah menjadi rumah bagi Nicholas Saputra. Berulangkali Ia mengunjungi daerah – daerah di NTT. Hal ini bisa di lihat dari laman instagramnya nicholassaputra. Ia memang kerap menghiasi laman instagramnya dengan foto-foto keindahan alam maupun hal-hal unik lainnya. Bahkan ia sering memposting foto alam Nusa Tenggara Timur seperti Sumba, Pulau Komodo, hingga Ende


NTT seolah sudah menjadi rumah sendiri bagi artis yang melejit lewat film Ada Apa Dengan Cinta? Ini. Sabtu (1/7/2017, Ia mengunjungi Taman Nasional Komodo. Aktor Nicholas Saputra pun mengunggah foto seekor rusa diperbukitan, dan foto lainnya yang merekam panorama laut biru dan perbukitan. Ia juga menambahkan caption "Pulang Kampung" pada fotonya .

Waduh... Apakah ini pertanda kampung halaman Nicholas Saputra ada di Pulau Komodo ?

Sumber berita: Pos Kupang/Igo Halimaking
Sumber Foto : Akun Instagram nicholassaputra
Share:

KISAH NIKOLAS SAPUTRA SAAT SYUTING FILM PENDEKAR TONGKAT EMAS DI PULAU SUMBA


Kemistri Rangga atau Nicholas Saputra dan Cinta(Dian Sastrowardoyo) dalam film Ada Apa Dengan Cinta ternyata terbawah sampai dunia nyata. Salah satu contohnya ternyata Rangga dan Cinta sama – sama menyukai pulau Sumba.

Nicholas Saputra yang melejit lewat film Ada Apa Dengan Cinta? ini mengaku kagum pada eksotiknya Pulau Sumba dan sekitarnya. Yuk simak kisah Nicholas Saputra saat syuting film Pendekar Tongkat Emas selama tiga bulan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara

Selama tiga bulan yaitu dari bulan Juni hingga September, aku melakukan syuting film Pendekar Tongkat Emas di Pulau Sumba, Nusa Tenggara. Aku memanfaatkan kesempatan berada di wilayah kepulauan itu untuk jalan-jalan.

“Kebetulan hobi saya memang travelling. Jadi selain syuting di Pulau Sumba, saya juga travelling ke beberapa pulau-pulau yang ada di Nusa Tenggara, baik Nusa Tenggara Barat maupun Nusa Tenggara Timur,” ujarnya.

Pulau Sumba merupakan pulau yang eksotik. Padang rumput yang luas, bukit-bukit, dan pantai yang indah. Udara di Pulau Sumba memang panas. Tetapi buat orang yang menyukai travelling seperti aku, tantangan itu terbayarkan dengan eksotiknya pemandangan alam di Pulau Sumba.

Dari atas bukit, aku bisa memandang laut yang biru. Berbeda sekali pemandangan di Pulau Sumba dengan di Jakarta, yang banyak bangunan tinggi. Di Pulau Sumba, masih banyak rumah-rumah penduduk yang terbuat dari kayu dan atapnya terbuat dari alang-alang yang banyak tumbuh di sana.


Banyaknya padang rumput membuat pulau itu memiliki kuda yang khas, yang disebut kuda Sandalwood Pony. Kudanya itu mungil, tetapi kuat. Kuda-kuda itu sampai sekarang masih dilestarikan dan dimanfaatkan oleh penduduk untuk acara-acara adat.

Di sana ada budaya Pasola, yaitu budaya menjelang musim panen. Saat itu diadakan lomba menunggang kuda antar kampung. Dari atas kuda, mereka saling melemparkan tombak pada lawannya. Ada kepercayaan, semakin banyak darah keluar menetesi bumi, maka artinya panen pun kelak akan berlimpah.

Selama syuting film Pendekar Tongkat Emas, sebagai pendekar aku juga menunggangi kuda pony tersebut. Baik sebagai kendaraan, maupun sarana melakukan peperangan. Ya, pengalaman yang sangat mengasyikkan. Hahaha.

Sebagai orang Indonesia, aku merasa bangga. Ternyata di negeriku juga ada budaya memelihara dan menunggang kuda. Selama ini, aku kira hanya cowboy-cowboy Amerika yang menunggang kuda. Hahaha.

Di Pulau Sumba ada budaya menguburkan anggota keluarga yang meninggal dunia dalam kuburan batu di depan rumah. Semakin tinggi kuburan batu itu, menandakan semakin tinggi pula derajat orang itu di masyarakat.

Ketika para kaum lelaki pergi bertani, maka ibu-ibu di sana melakukan kegiatan menenun di depan rumahnya. Sumba memang terkenal dengan kain tenun ikatnya. Kain tenun ikat itu berwarna-warni, natural colour.

Biasanya motif-motifnya adalah hewan-hewan yang ada di sekitar kehidupan kita, seperti kuda, buaya, ular, kepiting, dan udang. Aku membeli satu kain tenun ikat itu buat kenang-kenangan.

Pembuatan kain tenun itu cukup lama, bisa sampai enam bulan. Itu sebabnya harga kain tenun ikat cukup mahal, dari yang harganya ratusan ribu rupiah, hingga yang harganya jutaan rupiah. Makin sulit pembuatannya, makin mahal harganya.

Sumber: cekricek /berbagai sumber


Share:

Pendekar Tongkat Emas Dari Pulau Sumba



Keindahan pulau Sumba di Nusa Tenggar Timur membuat semua orang jatuh cintah. Sastrawan, Artis, hingga sutradara beken pun tergoda dengan keindahan pulau sejuta kuda ini. Mereka mengekspresikan keindahan pulau Sumba lewat berbagai bentuk, lewat puisi maupun melalui film.

Sastrawan Indonesia, Taufik Ismail pun menggambarkan keindahan dari alam Sumba yang begitu berkesan lewat Sebuah Puisi Beri Daku Sumba.

Berikut puisi Taufik Ismail puisi “Beri Daku Sumba”

Beri Daku Sumba

di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
aneh, aku jadi ingat pada Umbu

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga


Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh



Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.

Begitulah isi puisi Taufik Ismail menggambarkan alam Sumba yang masih perawan hanya berdasarkan cerita
Umbu. Tapi semua realita yang ada di Sumba tergambarkan dalam bait-bait puisinya. Cerita yang mengalir dari mulut Umbu bisa diterjemahkan dalam rangkaian kata-kata nan indah.

Keindahan pulau Sumba ini juga membuat Sutradara dan Produser beken, Ifa Isfansyah, Mira Lesmana dan Riri Riza menjadikan tanah Sumba sebagai lokasi shoting Film Pendekar Tongkat Emas yang pada dirilis pada 18 Desember 2014 lalu.

Mengambil latar belakang tentang kisah dunia persilatan pada zaman kolosal, film yang mengambil lokasi syuting di daerah Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur ini mengangkat dan mengeksplorasi berbagai nilai kehidupan seperti pengkhianatan, kesetiaan, dan juga ambisi.

Film garapan rumah produksi milik Mira Lesmana dan Kompas Gramedia ini mendepak beberapa nama besar dalam jajaran film nasional seperti Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Nicholas Saputra dan Reza Rahardian. Di dukung pula dengan beberapa nama baru yang menjanjikan bagi dunia film Tanah Air seperti Eva Celia, Tara Basro dan juga Aria Kusumah.

Berawal dari kisah pengkhianatan yang dilakukan oleh Biru (Reza Rahardian) dan juga Gerhana (Tara Basro) yang tidak terima saat sang guru Cempaka (Christine Hakim) mewariskan tongkat emas milik perguruan silat Tongkat Emas kepada Dara (Eva Celia). Cempaka membawa Dara dan Angin (Aria Kusumah) pergi untuk mewariskan ilmu terakhir milik perguruan tersebut. Sayangnya, ia akhirnya dibunuh oleh kedua muridnya Biru dan Gerhana sebelum ilmu tersebut sempat ia turunkan. Tongkat kebesaran perguruan akhirnya jatuh ke tangan yang salah, dan kekacauan pun terjadi di dunia persilatan.

Berbicara mengenai para pemain secara keseluruhan, tidak diragukan lagi kemampuan akting para pemainnya, totalitas semua pemain sangat terasa dalam film ini. Namun, ada satu karakter yang cukup menyita perhatian saya. Adalah, tokoh Langit yang diperankan oleh Aria Kusumah. Tokoh pendekar kecil yang irit bicara namun hadir sebagai tokoh yang disegani dalam cerita ini. Tokoh Langit mengajarkan tentang nilai kesetiaan, keberanian dan juga tanggung jawab yang harus ada dalam menjalani kehidupan. Saat dimana ia lebih mendahulukan keselamatan orang lain dibanding keselamatan diri sendiri, satu hal yang sungguh jarang bisa dilakukan oleh orang banyak.

Entah ide dari siapa, namun film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah ini jelas sukses menghadirkan pesona alam Sumba Timur yang didominasi oleh langit biru dan juga hamparan rumput yang luas. Belum lagi pantai dan juga pemandangan tebing curam yang ada di sana. Juaranya ada saat scene matahari terbenam yang terlihat sangat indah, well I'll be so happy if I able to see that kind of sunset every single day. Alam perawan yang sangat indah, lokasi yang juga saya yakini akan segera menjadi salah satu destinasi favorit wisata dalam waktu dekat ini.

Tidak hanya para pemain dan juga sutradara serta penulis naskah, hasil kerja seluruh tim produksi dalam film ini patut mendapatkan acungan jempol. Semua detail mulai dari kostum para pemain, tata rias dan rambut serta properti di lokasi tampak di kerjakan dengan sepenuh hati. Unsur-unsur kedaerahan tempat dimana syuting tersebut dilakukan pun diangkat kedalamnya. Perhatikan detail tenun khas Sumba yang melekat di setiap kostum para pemain, tenda-tenda yang didirikan saat penduduk desa harus pindah dari rumah mereka menjadikan film ini menjadi indah.

Diolah dari berbagai sumber
Share:

PEMERAN FILM JAKA SEMBUNG KUNJUNGI LABUAN BAJO



Masih ingat dengan actor pemeran film Si Jampang, atau film Jaka Sembung? Iya dialah Barry Prima. Barry Prima adalah aktor berkebangsaan Indonesia. Ia paling dikenal dengan perannya dalam genre film laga Indonesia pada era 80an, karena kemampuan bela diri taekwondo yang dikuasainya. Kariernya merentang dari penghujung 70an hingga sekarang.


Sabtu, 1/7/2017 lalu, Barry Prima berkesempatan mengunjungi Labuan Bajo. Aktor laga Barry Prima rupanya sudah lama ingin pergi ke Labuan Bajo, dan menikmati keindahan alam di sana. Bahkan keinginan itu ada sejak 1980-an. Namun, baru kali ia bisa mewujudkan keinginan tersebut.

"Baru kali ini saya datang ke Labuan Bajo. Saya berlibur di Labuan Bajo sampai tanggal 5 (Juli). Saya liburan ke Labuan Bajo karena saya belum pernah ke sini. Sudah lama saya pengin ke sini," katanya.

Sumber: Pos Kupang


Share:
Flag Counter

Featured Post 3

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support