Kamis, 28 Agustus 2014

Nasi Saja Belum Dapat Memenuhi Kebutuhan Gizi Seimbang Bagi Tubuh Manusia



Nasi Saja Belum Dapat Memenuhi Kebutuhan Gizi Seimbang Bagi Tubuh Manusia
*Oleh Igo Halimaking













"Mari kembali membiasakan pangan lokal (daerah) sebagai makanan pokok dan jangan hanya mengonsumsi nasi semata. Karena dengan hanya mengonsumsi nasi saja belum dapat memenuhi kebutuhan gizi seimbang bagi tubuh manusia," kata Wakil Ketua PKK Kabupaten Lembata, Ny. Bergita Meri Flora Watun, di kegiatan pelatihan pengelolaan makanan lokal yang digelar Angkatan Muda Mahasiswa Pelajar Asal Ile Ape (AMMAPAI ) – Kupang  dalam rangkaian kegiatan Bakti social Lewotana, di desa Aulesa Kecamatan Ile Ape Timur, Kamis, 14 Agustus 2014.
Menurut Ny. Flora Watun, makanan berbasis pangan lokal yang terbuat dari berbagai hasil pertanian daerah seperti umbi umbian, jagung dan sebagainya itu, selain dapat menjaga keseimbangan gizi bagi manusia.
“Sejumlah sumber makan tersebut memiliki gizi yang memadai. Tidak itu saja, bahan panganan itu juga mudah didapat dan tidak mudah habis karena berbeda dengan padi yang membutuhkan perawatan khusus. Kadar serta nilai gizi pada pangan lokal seperti ubi kayu (singkong), kacang kacangan, pisang, jagung, sayur mayur serta umbi umbian lainnya di sekitar rumah masyarakat sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia dalam pertumbuhan dan perkembangan”, tegas Ny. Flora Watun.

Menurut dia, mengonsumsi penganan berbahan lokal bermanfaat banyak terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari. Selain mengembalikan kejayaan penganan produk lokal, mengonsumsi pangan berbahan lokal dapat merubah pola makan masyarakat yang terbiasa dengan nasi (beras) sebagai makanan pokok menjadi bervariasi.
"Kalau masyarakat sudah biasa makan ubi kayu, pisang dan lainnya yang ada di kebun selain beras, kita tidak khawatir lagi akan terjadi kelaparan bagi masyarakat ketika ada rawan pangan khusus beras di daerah ini," kata dia.
Kegiatan pelatihan ini diakhiri dengan perlombaan pengelolaan makan local antar dusun di desa aulesa pada hari minggu, 17 Agustus 2014.

Selain kegiatan pelatihan pengelolaan makanan local, dalam kegiatan Bakti social Lewotana, di desa Aulesa Kecamatan Ile Ape Timur, yang berlangsung dari tanggal 11- 17 agustus 2014, Angkatan Muda Mahasiswa Pelajar Asal Ile Ape (AMMAPAI ) – Kupang  juga menggelar beberapa kegiatan lain yaitu  mengerjakan 32 buku administrasi desa, mengerjakan empat pilar dusun, gapura 17 agustus, dan juga mendatangkan pemateri untuk cermah yaitu materi  “Konsep Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat (Community Base Child Protection-CBCP) ”, dari PLAN – LEMBATA, “Perencanaan dan Pengelolaan Ekonomi Rumah Tangga” dari Manager Koperasi Kredit Ankara Cabang Ile Ape , dan “Kebijakan Pemerintah Dalam Pelayanan Kesehatan Masyarakat” dari Dinas Kesehatan Lembata.
Kepala desa Aulesa, Silverius Arakian sangat berterima kasih kepada anak – anak AMMAPAI, yang  mengadakan kegiatan Baksos Lewotana di desa Aulesa. “Saya dan seluruh warga masyarakat  desa Aulesa sangat berterima kasih kepada AMMAPAI karena selama Baksos telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Aulesa. Semoga apa yang telah kita buat bersama akan membawa Desa  kita ke arah kemajuan yang lebih baik di masa yang akan datang dan memberikan manfaat kepada seluruh lapisan masyarakat Desa. Dan semoga kegiatan ini memacu para pemuda untuk bangga membangun desa, tutur Arakaian.
Kegiatan Baksos Lewotana Angkatan Muda Mahasiswa Pelajar Asal Ile Ape (AMMAPAI ) – Kupang Periode 2014/2015 ini mengusung tema ““Pembangunan semangat kemandirian masyarakat melalui pendekatan program berbasis pedesaan”. *(Ketua Umum AMMAPAI – Kupang 2014/2015)


Share:

Tata Kampung Adat, Disbudpar Lembata Gelar Dialog Budaya


Tata Kampung Adat, Disbudpar Lembata Gelar Dialog Budaya

Warga Lewohala yang hadir dalam dialog budaya di Pantai Teluk Jontona, Sabtu (23/8). (Foto : FBC/Yogi Making) 

Pemerintah Kabupaten Lembata melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lembata menggelar dialog budaya dengan tema “Membangun Tata Kelola Kampung Adat Lewohala Berbasis Budaya” bertempat pantai teluk desa Jontona, Kecamtan Ile Ape Timur, Sabtu (23/8).
Kegiatan dimaksud dihadiri  200 orang yang merupakan perwakilan masyarakat adat Lewohala, yang bermukim di tujuh desa dalam wilayah kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur. Dihadiri juga Wakil Bupati Lembata, Viktor Mado Wathun, Anggota DPRD Lembata Linus Beseng dan beberapa orang pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Wakil Bupati Viktor Mado Wathun dalam sambutan di awal kegiatan mengungkapkan keprihatinannya terhadap budaya Lewohala yang mulai berubah di pengaruhi budaya modern. Dia mencontohkan, beberapa rumah-rumah adat di kampung tua orang Lewohala yang dulunya beratap daun kelapa dan rumput alang-alang kini diganti dengan atap seng.
Menurutnya, perubahan ini karena sebagian warga Lewohala tak lagi menghargai budayanya sebagai warisan leluhur yang harus dilestarikan. “Saya lihat beberapa rumah adat diatapnya dengan seng, ini sebuah bukti kalau kita mulai terpengaruh dengan budaya modern dan perlahan-lahan kita mulai tinggalkan budaya kita sendiri,” ujar Mado Wathun.
Dengan demikian dia berharap, agar penguasa adat Lewohala supaya menghimbau warga suku pemilik rumah yang diganti dengan atap seng supaya di bongkar dan dibagun kembali sesuai bentuk aslinya.
Lebih jauh Mado Wathun mengatakan, oleh karena keunikan itu, Pemerintah Kabupaten Lembata telah menetapkan Lewohala sebagai salah satu destinasi pariwisata. Dan karena itu pemerintah melalui dinas dan badan terkait harus membuat perencanaan demi pengembangan Lewohala sebagai daerah tujuan wisata di Kabupaten Lembata.
Sayangnya moment penting itu tidak dihadiri oleh beberapa kepala SKPD  yang harusnya menjadi stake holder dalam rencana pengembangan Lewohala sebagai kampung pariwisata. Seperti di saksikan Mado Wathun dalam sambutan itu mengecek satu persatu kepala SKPD yang menurutnya wajib hadir dalam dialog itu.
“Saya omong begini karena banyak pejabat di Kabupaten kita ini pintar cuci tangan. Jangan sampai setelah kita bahas, lalu mereka bilang tidak tahu. Kalau Pak Bupati dia agak slow, tapi kalau saya pasti saya cek,” katanya.
Sementara itu, Linus Beseng anggota DPRD Lembata yang hadir mewakili pimpinan DPRD Kabupaten Lembata, dalam sambutannya menghimbau warga Lewohala supaya tetap mempertahankan keaslian budaya Lewohala sebagai warisan lelulur.
Tak beda dengan wakil Bupati, Ritual pesta kacang di Lewohala dalam pengamatannya mulai bergeser mengikuti perkembangan jaman. Karena itu dialog ini menjadi penting guna melihat dan menggali kembali keaslian budaya Lewohala untuk dijaga di lestarikan.
Lebih jauh dalam sambutan itu, Linus mengatakan demi melindungi budaya lokal, DPRD Lembata belum lama ini telah membahas dan menetapkan Peraturan Daerah nomor 6 tahun 2014 tentang Pelestarian Budaya Warisan Leluhur.
Seperti disaksikan, dialog budaya ini diawali dengan penyampaian materi dengan menghadirkan empat orang pembicara masing-masing Wakil Bupati Lembata Viktor Mado Wathun, Kepala Dinas Pariwisata Longginus Lega, salah satu akademisi asal Lewohala Linus Lusi Making dan tokoh adat Lewohala, Stefanus Lodan Halimaking.
Dialog ini membahas dua topik diskusi yakni, struktur adat kampung adat Lewohala, dan proses ritual pesta kacang. Kedua aspek ini didialogkan untuk menggali dan menemukan kembali budaya warisan leluhur untuk dikembangkan menjadi daya tarik pariwisata baik lokal, Nasional maupun manca negara sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat adat Lewohala.
Orang Lewohala Masih Jaga Keaslian Budaya
Menanggapi topik diskusi dan pernyataan bernada kekhawatiran yang terungkap dalam acara dialog masyarakat adat Lewohala ini, Aloysius Bagasi Making salah satu anak Lewohala di sela-sela diskusi kepada floresbangkit.com mengatakan, kekhawatiran akan punahnya budaya Lewohala merupakan hal wajar, namun secara umum masyarakat adat lewohala masih teguh mempertahankan budayanya sebagai warisan leluhur.
Kendati demikian, dia mengakui jika dalam beberapa hal keaslian budayanya d rubah mengkuti perkembangan jaman. “Saya akui kalau ada sedikit perubahan terutama terkait struktur asli rumah adat, dan cara berpakaian warga lewohala saat menghadiri pesta kacang, tetapi dari sisi ritual tidak ada perubahan, kami tetap mempertahankan itu sebagai warisan leluhur,” ujarnya.
Sementara terkait rencana pengembangan kampung adat Lewohala sebagai daerah tujuan wisata, Bagasi Making mengatakan, menjadi kewajiban pemerintah Kabupaten Lembata untuk mempromosikan potensi wisata Lewohala, apalagi tujuannya adalah kesejahteraan rakyat.
“Orang Lewohala menggelar pesta kacang itu untuk mengucap syukur kepada sang pencipta dan mendekatkan dirinya dengan leluhurnya. Jadi kalau ini dilihat unik dan punya potensi wisata, itu tugas pemerintah untuk memperkenalkan kepada dunia luar. Tetapi ingat, kami orang lewohala tidak menggelar ritual pesta kacang karena ada pariwisata. Saya perlu tegaskan ini, supaya orang jangan salah persepsi,” ungkapnya. (Yogi Making)

Sumber berita : http://www.floresbangkit.com


LEWOLEBA, FBC-Pemerintah Kabupaten Lembata melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lembata menggelar dialog budaya dengan tema “Membangun Tata Kelola Kampung Adat Lewohala Berbasis Budaya” bertempat pantai teluk desa Jontona, Kecamtan Ile Ape Timur, Sabtu (23/8).
Kegiatan dimaksud dihadiri  200 orang yang merupakan perwakilan masyarakat adat Lewohala, yang bermukim di tujuh desa dalam wilayah kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur. Dihadiri juga Wakil Bupati Lembata, Viktor Mado Wathun, Anggota DPRD Lembata Linus Beseng dan beberapa orang pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Wakil Bupati Viktor Mado Wathun dalam sambutan di awal kegiatan mengungkapkan keprihatinannya terhadap budaya Lewohala yang mulai berubah di pengaruhi budaya modern. Dia mencontohkan, beberapa rumah-rumah adat di kampung tua orang Lewohala yang dulunya beratap daun kelapa dan rumput alang-alang kini diganti dengan atap seng.
Menurutnya, perubahan ini karena sebagian warga Lewohala tak lagi menghargai budayanya sebagai warisan leluhur yang harus dilestarikan. “Saya lihat beberapa rumah adat diatapnya dengan seng, ini sebuah bukti kalau kita mulai terpengaruh dengan budaya modern dan perlahan-lahan kita mulai tinggalkan budaya kita sendiri,” ujar Mado Wathun.
Dengan demikian dia berharap, agar penguasa adat Lewohala supaya menghimbau warga suku pemilik rumah yang diganti dengan atap seng supaya di bongkar dan dibagun kembali sesuai bentuk aslinya.
Lebih jauh Mado Wathun mengatakan, oleh karena keunikan itu, Pemerintah Kabupaten Lembata telah menetapkan Lewohala sebagai salah satu destinasi pariwisata. Dan karena itu pemerintah melalui dinas dan badan terkait harus membuat perencanaan demi pengembangan Lewohala sebagai daerah tujuan wisata di Kabupaten Lembata.
Sayangnya moment penting itu tidak dihadiri oleh beberapa kepala SKPD  yang harusnya menjadi stake holder dalam rencana pengembangan Lewohala sebagai kampung pariwisata. Seperti di saksikan Mado Wathun dalam sambutan itu mengecek satu persatu kepala SKPD yang menurutnya wajib hadir dalam dialog itu.
“Saya omong begini karena banyak pejabat di Kabupaten kita ini pintar cuci tangan. Jangan sampai setelah kita bahas, lalu mereka bilang tidak tahu. Kalau Pak Bupati dia agak slow, tapi kalau saya pasti saya cek,” katanya.
Sementara itu, Linus Beseng anggota DPRD Lembata yang hadir mewakili pimpinan DPRD Kabupaten Lembata, dalam sambutannya menghimbau warga Lewohala supaya tetap mempertahankan keaslian budaya Lewohala sebagai warisan lelulur.
Tak beda dengan wakil Bupati, Ritual pesta kacang di Lewohala dalam pengamatannya mulai bergeser mengikuti perkembangan jaman. Karena itu dialog ini menjadi penting guna melihat dan menggali kembali keaslian budaya Lewohala untuk dijaga di lestarikan.
Lebih jauh dalam sambutan itu, Linus mengatakan demi melindungi budaya lokal, DPRD Lembata belum lama ini telah membahas dan menetapkan Peraturan Daerah nomor 6 tahun 2014 tentang Pelestarian Budaya Warisan Leluhur.
Seperti disaksikan, dialog budaya ini diawali dengan penyampaian materi dengan menghadirkan empat orang pembicara masing-masing Wakil Bupati Lembata Viktor Mado Wathun, Kepala Dinas Pariwisata Longginus Lega, salah satu akademisi asal Lewohala Linus Lusi Making dan tokoh adat Lewohala, Stefanus Lodan Halimaking.
Dialog ini membahas dua topik diskusi yakni, struktur adat kampung adat Lewohala, dan proses ritual pesta kacang. Kedua aspek ini didialogkan untuk menggali dan menemukan kembali budaya warisan leluhur untuk dikembangkan menjadi daya tarik pariwisata baik lokal, Nasional maupun manca negara sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat adat Lewohala.
Orang Lewohala Masih Jaga Keaslian Budaya
Menanggapi topik diskusi dan pernyataan bernada kekhawatiran yang terungkap dalam acara dialog masyarakat adat Lewohala ini, Aloysius Bagasi Making salah satu anak Lewohala di sela-sela diskusi kepada floresbangkit.com mengatakan, kekhawatiran akan punahnya budaya Lewohala merupakan hal wajar, namun secara umum masyarakat adat lewohala masih teguh mempertahankan budayanya sebagai warisan leluhur.
Kendati demikian, dia mengakui jika dalam beberapa hal keaslian budayanya d rubah mengkuti perkembangan jaman. “Saya akui kalau ada sedikit perubahan terutama terkait struktur asli rumah adat, dan cara berpakaian warga lewohala saat menghadiri pesta kacang, tetapi dari sisi ritual tidak ada perubahan, kami tetap mempertahankan itu sebagai warisan leluhur,” ujarnya.
Sementara terkait rencana pengembangan kampung adat Lewohala sebagai daerah tujuan wisata, Bagasi Making mengatakan, menjadi kewajiban pemerintah Kabupaten Lembata untuk mempromosikan potensi wisata Lewohala, apalagi tujuannya adalah kesejahteraan rakyat.
“Orang Lewohala menggelar pesta kacang itu untuk mengucap syukur kepada sang pencipta dan mendekatkan dirinya dengan leluhurnya. Jadi kalau ini dilihat unik dan punya potensi wisata, itu tugas pemerintah untuk memperkenalkan kepada dunia luar. Tetapi ingat, kami orang lewohala tidak menggelar ritual pesta kacang karena ada pariwisata. Saya perlu tegaskan ini, supaya orang jangan salah persepsi,” ungkapnya. (Yogi Making)
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2014/08/tata-kampung-adat-disbudpar-lembata-gelar-dialog-budaya/#sthash.yJpXXanE.dpuf
LEWOLEBA, FBC-Pemerintah Kabupaten Lembata melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lembata menggelar dialog budaya dengan tema “Membangun Tata Kelola Kampung Adat Lewohala Berbasis Budaya” bertempat pantai teluk desa Jontona, Kecamtan Ile Ape Timur, Sabtu (23/8).
Kegiatan dimaksud dihadiri  200 orang yang merupakan perwakilan masyarakat adat Lewohala, yang bermukim di tujuh desa dalam wilayah kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur. Dihadiri juga Wakil Bupati Lembata, Viktor Mado Wathun, Anggota DPRD Lembata Linus Beseng dan beberapa orang pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Wakil Bupati Viktor Mado Wathun dalam sambutan di awal kegiatan mengungkapkan keprihatinannya terhadap budaya Lewohala yang mulai berubah di pengaruhi budaya modern. Dia mencontohkan, beberapa rumah-rumah adat di kampung tua orang Lewohala yang dulunya beratap daun kelapa dan rumput alang-alang kini diganti dengan atap seng.
Menurutnya, perubahan ini karena sebagian warga Lewohala tak lagi menghargai budayanya sebagai warisan leluhur yang harus dilestarikan. “Saya lihat beberapa rumah adat diatapnya dengan seng, ini sebuah bukti kalau kita mulai terpengaruh dengan budaya modern dan perlahan-lahan kita mulai tinggalkan budaya kita sendiri,” ujar Mado Wathun.
Dengan demikian dia berharap, agar penguasa adat Lewohala supaya menghimbau warga suku pemilik rumah yang diganti dengan atap seng supaya di bongkar dan dibagun kembali sesuai bentuk aslinya.
Lebih jauh Mado Wathun mengatakan, oleh karena keunikan itu, Pemerintah Kabupaten Lembata telah menetapkan Lewohala sebagai salah satu destinasi pariwisata. Dan karena itu pemerintah melalui dinas dan badan terkait harus membuat perencanaan demi pengembangan Lewohala sebagai daerah tujuan wisata di Kabupaten Lembata.
Sayangnya moment penting itu tidak dihadiri oleh beberapa kepala SKPD  yang harusnya menjadi stake holder dalam rencana pengembangan Lewohala sebagai kampung pariwisata. Seperti di saksikan Mado Wathun dalam sambutan itu mengecek satu persatu kepala SKPD yang menurutnya wajib hadir dalam dialog itu.
“Saya omong begini karena banyak pejabat di Kabupaten kita ini pintar cuci tangan. Jangan sampai setelah kita bahas, lalu mereka bilang tidak tahu. Kalau Pak Bupati dia agak slow, tapi kalau saya pasti saya cek,” katanya.
Sementara itu, Linus Beseng anggota DPRD Lembata yang hadir mewakili pimpinan DPRD Kabupaten Lembata, dalam sambutannya menghimbau warga Lewohala supaya tetap mempertahankan keaslian budaya Lewohala sebagai warisan lelulur.
Tak beda dengan wakil Bupati, Ritual pesta kacang di Lewohala dalam pengamatannya mulai bergeser mengikuti perkembangan jaman. Karena itu dialog ini menjadi penting guna melihat dan menggali kembali keaslian budaya Lewohala untuk dijaga di lestarikan.
Lebih jauh dalam sambutan itu, Linus mengatakan demi melindungi budaya lokal, DPRD Lembata belum lama ini telah membahas dan menetapkan Peraturan Daerah nomor 6 tahun 2014 tentang Pelestarian Budaya Warisan Leluhur.
Seperti disaksikan, dialog budaya ini diawali dengan penyampaian materi dengan menghadirkan empat orang pembicara masing-masing Wakil Bupati Lembata Viktor Mado Wathun, Kepala Dinas Pariwisata Longginus Lega, salah satu akademisi asal Lewohala Linus Lusi Making dan tokoh adat Lewohala, Stefanus Lodan Halimaking.
Dialog ini membahas dua topik diskusi yakni, struktur adat kampung adat Lewohala, dan proses ritual pesta kacang. Kedua aspek ini didialogkan untuk menggali dan menemukan kembali budaya warisan leluhur untuk dikembangkan menjadi daya tarik pariwisata baik lokal, Nasional maupun manca negara sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat adat Lewohala.
Orang Lewohala Masih Jaga Keaslian Budaya
Menanggapi topik diskusi dan pernyataan bernada kekhawatiran yang terungkap dalam acara dialog masyarakat adat Lewohala ini, Aloysius Bagasi Making salah satu anak Lewohala di sela-sela diskusi kepada floresbangkit.com mengatakan, kekhawatiran akan punahnya budaya Lewohala merupakan hal wajar, namun secara umum masyarakat adat lewohala masih teguh mempertahankan budayanya sebagai warisan leluhur.
Kendati demikian, dia mengakui jika dalam beberapa hal keaslian budayanya d rubah mengkuti perkembangan jaman. “Saya akui kalau ada sedikit perubahan terutama terkait struktur asli rumah adat, dan cara berpakaian warga lewohala saat menghadiri pesta kacang, tetapi dari sisi ritual tidak ada perubahan, kami tetap mempertahankan itu sebagai warisan leluhur,” ujarnya.
Sementara terkait rencana pengembangan kampung adat Lewohala sebagai daerah tujuan wisata, Bagasi Making mengatakan, menjadi kewajiban pemerintah Kabupaten Lembata untuk mempromosikan potensi wisata Lewohala, apalagi tujuannya adalah kesejahteraan rakyat.
“Orang Lewohala menggelar pesta kacang itu untuk mengucap syukur kepada sang pencipta dan mendekatkan dirinya dengan leluhurnya. Jadi kalau ini dilihat unik dan punya potensi wisata, itu tugas pemerintah untuk memperkenalkan kepada dunia luar. Tetapi ingat, kami orang lewohala tidak menggelar ritual pesta kacang karena ada pariwisata. Saya perlu tegaskan ini, supaya orang jangan salah persepsi,” ungkapnya. (Yogi Making)
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2014/08/tata-kampung-adat-disbudpar-lembata-gelar-dialog-budaya/#sthash.yJpXXanE.dpuf

Tata Kampung Adat, Disbudpar Lembata Gelar Dialog Budaya


Warga Lewohala yang hadir dalam dialog budaya di Pantai Teluk Jontona, Sabtu (23/8). (Foto : FBC/Yogi Making)
Warga Lewohala yang hadir dalam dialog budaya di Pantai Teluk Jontona, Sabtu (23/8). (Foto : FBC/Yogi Making)
LEWOLEBA, FBC-Pemerintah Kabupaten Lembata melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lembata menggelar dialog budaya dengan tema “Membangun Tata Kelola Kampung Adat Lewohala Berbasis Budaya” bertempat pantai teluk desa Jontona, Kecamtan Ile Ape Timur, Sabtu (23/8).
Kegiatan dimaksud dihadiri  200 orang yang merupakan perwakilan masyarakat adat Lewohala, yang bermukim di tujuh desa dalam wilayah kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur. Dihadiri juga Wakil Bupati Lembata, Viktor Mado Wathun, Anggota DPRD Lembata Linus Beseng dan beberapa orang pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Wakil Bupati Viktor Mado Wathun dalam sambutan di awal kegiatan mengungkapkan keprihatinannya terhadap budaya Lewohala yang mulai berubah di pengaruhi budaya modern. Dia mencontohkan, beberapa rumah-rumah adat di kampung tua orang Lewohala yang dulunya beratap daun kelapa dan rumput alang-alang kini diganti dengan atap seng.
Menurutnya, perubahan ini karena sebagian warga Lewohala tak lagi menghargai budayanya sebagai warisan leluhur yang harus dilestarikan. “Saya lihat beberapa rumah adat diatapnya dengan seng, ini sebuah bukti kalau kita mulai terpengaruh dengan budaya modern dan perlahan-lahan kita mulai tinggalkan budaya kita sendiri,” ujar Mado Wathun.
Dengan demikian dia berharap, agar penguasa adat Lewohala supaya menghimbau warga suku pemilik rumah yang diganti dengan atap seng supaya di bongkar dan dibagun kembali sesuai bentuk aslinya.
Lebih jauh Mado Wathun mengatakan, oleh karena keunikan itu, Pemerintah Kabupaten Lembata telah menetapkan Lewohala sebagai salah satu destinasi pariwisata. Dan karena itu pemerintah melalui dinas dan badan terkait harus membuat perencanaan demi pengembangan Lewohala sebagai daerah tujuan wisata di Kabupaten Lembata.
Sayangnya moment penting itu tidak dihadiri oleh beberapa kepala SKPD  yang harusnya menjadi stake holder dalam rencana pengembangan Lewohala sebagai kampung pariwisata. Seperti di saksikan Mado Wathun dalam sambutan itu mengecek satu persatu kepala SKPD yang menurutnya wajib hadir dalam dialog itu.
“Saya omong begini karena banyak pejabat di Kabupaten kita ini pintar cuci tangan. Jangan sampai setelah kita bahas, lalu mereka bilang tidak tahu. Kalau Pak Bupati dia agak slow, tapi kalau saya pasti saya cek,” katanya.
Sementara itu, Linus Beseng anggota DPRD Lembata yang hadir mewakili pimpinan DPRD Kabupaten Lembata, dalam sambutannya menghimbau warga Lewohala supaya tetap mempertahankan keaslian budaya Lewohala sebagai warisan lelulur.
Tak beda dengan wakil Bupati, Ritual pesta kacang di Lewohala dalam pengamatannya mulai bergeser mengikuti perkembangan jaman. Karena itu dialog ini menjadi penting guna melihat dan menggali kembali keaslian budaya Lewohala untuk dijaga di lestarikan.
Lebih jauh dalam sambutan itu, Linus mengatakan demi melindungi budaya lokal, DPRD Lembata belum lama ini telah membahas dan menetapkan Peraturan Daerah nomor 6 tahun 2014 tentang Pelestarian Budaya Warisan Leluhur.
Seperti disaksikan, dialog budaya ini diawali dengan penyampaian materi dengan menghadirkan empat orang pembicara masing-masing Wakil Bupati Lembata Viktor Mado Wathun, Kepala Dinas Pariwisata Longginus Lega, salah satu akademisi asal Lewohala Linus Lusi Making dan tokoh adat Lewohala, Stefanus Lodan Halimaking.
Dialog ini membahas dua topik diskusi yakni, struktur adat kampung adat Lewohala, dan proses ritual pesta kacang. Kedua aspek ini didialogkan untuk menggali dan menemukan kembali budaya warisan leluhur untuk dikembangkan menjadi daya tarik pariwisata baik lokal, Nasional maupun manca negara sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat adat Lewohala.
Orang Lewohala Masih Jaga Keaslian Budaya
Menanggapi topik diskusi dan pernyataan bernada kekhawatiran yang terungkap dalam acara dialog masyarakat adat Lewohala ini, Aloysius Bagasi Making salah satu anak Lewohala di sela-sela diskusi kepada floresbangkit.com mengatakan, kekhawatiran akan punahnya budaya Lewohala merupakan hal wajar, namun secara umum masyarakat adat lewohala masih teguh mempertahankan budayanya sebagai warisan leluhur.
Kendati demikian, dia mengakui jika dalam beberapa hal keaslian budayanya d rubah mengkuti perkembangan jaman. “Saya akui kalau ada sedikit perubahan terutama terkait struktur asli rumah adat, dan cara berpakaian warga lewohala saat menghadiri pesta kacang, tetapi dari sisi ritual tidak ada perubahan, kami tetap mempertahankan itu sebagai warisan leluhur,” ujarnya.
Sementara terkait rencana pengembangan kampung adat Lewohala sebagai daerah tujuan wisata, Bagasi Making mengatakan, menjadi kewajiban pemerintah Kabupaten Lembata untuk mempromosikan potensi wisata Lewohala, apalagi tujuannya adalah kesejahteraan rakyat.
“Orang Lewohala menggelar pesta kacang itu untuk mengucap syukur kepada sang pencipta dan mendekatkan dirinya dengan leluhurnya. Jadi kalau ini dilihat unik dan punya potensi wisata, itu tugas pemerintah untuk memperkenalkan kepada dunia luar. Tetapi ingat, kami orang lewohala tidak menggelar ritual pesta kacang karena ada pariwisata. Saya perlu tegaskan ini, supaya orang jangan salah persepsi,” ungkapnya. (Yogi Making
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2014/08/tata-kampung-adat-disbudpar-lembata-gelar-dialog-budaya/#sthash.yJpXXanE.dpuf

Tata Kampung Adat, Disbudpar Lembata Gelar Dialog Budaya


Warga Lewohala yang hadir dalam dialog budaya di Pantai Teluk Jontona, Sabtu (23/8). (Foto : FBC/Yogi Making)
Warga Lewohala yang hadir dalam dialog budaya di Pantai Teluk Jontona, Sabtu (23/8). (Foto : FBC/Yogi Making)
LEWOLEBA, FBC-Pemerintah Kabupaten Lembata melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lembata menggelar dialog budaya dengan tema “Membangun Tata Kelola Kampung Adat Lewohala Berbasis Budaya” bertempat pantai teluk desa Jontona, Kecamtan Ile Ape Timur, Sabtu (23/8).
Kegiatan dimaksud dihadiri  200 orang yang merupakan perwakilan masyarakat adat Lewohala, yang bermukim di tujuh desa dalam wilayah kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur. Dihadiri juga Wakil Bupati Lembata, Viktor Mado Wathun, Anggota DPRD Lembata Linus Beseng dan beberapa orang pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Wakil Bupati Viktor Mado Wathun dalam sambutan di awal kegiatan mengungkapkan keprihatinannya terhadap budaya Lewohala yang mulai berubah di pengaruhi budaya modern. Dia mencontohkan, beberapa rumah-rumah adat di kampung tua orang Lewohala yang dulunya beratap daun kelapa dan rumput alang-alang kini diganti dengan atap seng.
Menurutnya, perubahan ini karena sebagian warga Lewohala tak lagi menghargai budayanya sebagai warisan leluhur yang harus dilestarikan. “Saya lihat beberapa rumah adat diatapnya dengan seng, ini sebuah bukti kalau kita mulai terpengaruh dengan budaya modern dan perlahan-lahan kita mulai tinggalkan budaya kita sendiri,” ujar Mado Wathun.
Dengan demikian dia berharap, agar penguasa adat Lewohala supaya menghimbau warga suku pemilik rumah yang diganti dengan atap seng supaya di bongkar dan dibagun kembali sesuai bentuk aslinya.
Lebih jauh Mado Wathun mengatakan, oleh karena keunikan itu, Pemerintah Kabupaten Lembata telah menetapkan Lewohala sebagai salah satu destinasi pariwisata. Dan karena itu pemerintah melalui dinas dan badan terkait harus membuat perencanaan demi pengembangan Lewohala sebagai daerah tujuan wisata di Kabupaten Lembata.
Sayangnya moment penting itu tidak dihadiri oleh beberapa kepala SKPD  yang harusnya menjadi stake holder dalam rencana pengembangan Lewohala sebagai kampung pariwisata. Seperti di saksikan Mado Wathun dalam sambutan itu mengecek satu persatu kepala SKPD yang menurutnya wajib hadir dalam dialog itu.
“Saya omong begini karena banyak pejabat di Kabupaten kita ini pintar cuci tangan. Jangan sampai setelah kita bahas, lalu mereka bilang tidak tahu. Kalau Pak Bupati dia agak slow, tapi kalau saya pasti saya cek,” katanya.
Sementara itu, Linus Beseng anggota DPRD Lembata yang hadir mewakili pimpinan DPRD Kabupaten Lembata, dalam sambutannya menghimbau warga Lewohala supaya tetap mempertahankan keaslian budaya Lewohala sebagai warisan lelulur.
Tak beda dengan wakil Bupati, Ritual pesta kacang di Lewohala dalam pengamatannya mulai bergeser mengikuti perkembangan jaman. Karena itu dialog ini menjadi penting guna melihat dan menggali kembali keaslian budaya Lewohala untuk dijaga di lestarikan.
Lebih jauh dalam sambutan itu, Linus mengatakan demi melindungi budaya lokal, DPRD Lembata belum lama ini telah membahas dan menetapkan Peraturan Daerah nomor 6 tahun 2014 tentang Pelestarian Budaya Warisan Leluhur.
Seperti disaksikan, dialog budaya ini diawali dengan penyampaian materi dengan menghadirkan empat orang pembicara masing-masing Wakil Bupati Lembata Viktor Mado Wathun, Kepala Dinas Pariwisata Longginus Lega, salah satu akademisi asal Lewohala Linus Lusi Making dan tokoh adat Lewohala, Stefanus Lodan Halimaking.
Dialog ini membahas dua topik diskusi yakni, struktur adat kampung adat Lewohala, dan proses ritual pesta kacang. Kedua aspek ini didialogkan untuk menggali dan menemukan kembali budaya warisan leluhur untuk dikembangkan menjadi daya tarik pariwisata baik lokal, Nasional maupun manca negara sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat adat Lewohala.
Orang Lewohala Masih Jaga Keaslian Budaya
Menanggapi topik diskusi dan pernyataan bernada kekhawatiran yang terungkap dalam acara dialog masyarakat adat Lewohala ini, Aloysius Bagasi Making salah satu anak Lewohala di sela-sela diskusi kepada floresbangkit.com mengatakan, kekhawatiran akan punahnya budaya Lewohala merupakan hal wajar, namun secara umum masyarakat adat lewohala masih teguh mempertahankan budayanya sebagai warisan leluhur.
Kendati demikian, dia mengakui jika dalam beberapa hal keaslian budayanya d rubah mengkuti perkembangan jaman. “Saya akui kalau ada sedikit perubahan terutama terkait struktur asli rumah adat, dan cara berpakaian warga lewohala saat menghadiri pesta kacang, tetapi dari sisi ritual tidak ada perubahan, kami tetap mempertahankan itu sebagai warisan leluhur,” ujarnya.
Sementara terkait rencana pengembangan kampung adat Lewohala sebagai daerah tujuan wisata, Bagasi Making mengatakan, menjadi kewajiban pemerintah Kabupaten Lembata untuk mempromosikan potensi wisata Lewohala, apalagi tujuannya adalah kesejahteraan rakyat.
“Orang Lewohala menggelar pesta kacang itu untuk mengucap syukur kepada sang pencipta dan mendekatkan dirinya dengan leluhurnya. Jadi kalau ini dilihat unik dan punya potensi wisata, itu tugas pemerintah untuk memperkenalkan kepada dunia luar. Tetapi ingat, kami orang lewohala tidak menggelar ritual pesta kacang karena ada pariwisata. Saya perlu tegaskan ini, supaya orang jangan salah persepsi,” ungkapnya. (Yogi Making
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2014/08/tata-kampung-adat-disbudpar-lembata-gelar-dialog-budaya/#sthash.yJpXXanE.dpuf

Tata Kampung Adat, Disbudpar Lembata Gelar Dialog Budaya


Warga Lewohala yang hadir dalam dialog budaya di Pantai Teluk Jontona, Sabtu (23/8). (Foto : FBC/Yogi Making)
Warga Lewohala yang hadir dalam dialog budaya di Pantai Teluk Jontona, Sabtu (23/8). (Foto : FBC/Yogi Making)
LEWOLEBA, FBC-Pemerintah Kabupaten Lembata melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lembata menggelar dialog budaya dengan tema “Membangun Tata Kelola Kampung Adat Lewohala Berbasis Budaya” bertempat pantai teluk desa Jontona, Kecamtan Ile Ape Timur, Sabtu (23/8).
Kegiatan dimaksud dihadiri  200 orang yang merupakan perwakilan masyarakat adat Lewohala, yang bermukim di tujuh desa dalam wilayah kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur. Dihadiri juga Wakil Bupati Lembata, Viktor Mado Wathun, Anggota DPRD Lembata Linus Beseng dan beberapa orang pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Wakil Bupati Viktor Mado Wathun dalam sambutan di awal kegiatan mengungkapkan keprihatinannya terhadap budaya Lewohala yang mulai berubah di pengaruhi budaya modern. Dia mencontohkan, beberapa rumah-rumah adat di kampung tua orang Lewohala yang dulunya beratap daun kelapa dan rumput alang-alang kini diganti dengan atap seng.
Menurutnya, perubahan ini karena sebagian warga Lewohala tak lagi menghargai budayanya sebagai warisan leluhur yang harus dilestarikan. “Saya lihat beberapa rumah adat diatapnya dengan seng, ini sebuah bukti kalau kita mulai terpengaruh dengan budaya modern dan perlahan-lahan kita mulai tinggalkan budaya kita sendiri,” ujar Mado Wathun.
Dengan demikian dia berharap, agar penguasa adat Lewohala supaya menghimbau warga suku pemilik rumah yang diganti dengan atap seng supaya di bongkar dan dibagun kembali sesuai bentuk aslinya.
Lebih jauh Mado Wathun mengatakan, oleh karena keunikan itu, Pemerintah Kabupaten Lembata telah menetapkan Lewohala sebagai salah satu destinasi pariwisata. Dan karena itu pemerintah melalui dinas dan badan terkait harus membuat perencanaan demi pengembangan Lewohala sebagai daerah tujuan wisata di Kabupaten Lembata.
Sayangnya moment penting itu tidak dihadiri oleh beberapa kepala SKPD  yang harusnya menjadi stake holder dalam rencana pengembangan Lewohala sebagai kampung pariwisata. Seperti di saksikan Mado Wathun dalam sambutan itu mengecek satu persatu kepala SKPD yang menurutnya wajib hadir dalam dialog itu.
“Saya omong begini karena banyak pejabat di Kabupaten kita ini pintar cuci tangan. Jangan sampai setelah kita bahas, lalu mereka bilang tidak tahu. Kalau Pak Bupati dia agak slow, tapi kalau saya pasti saya cek,” katanya.
Sementara itu, Linus Beseng anggota DPRD Lembata yang hadir mewakili pimpinan DPRD Kabupaten Lembata, dalam sambutannya menghimbau warga Lewohala supaya tetap mempertahankan keaslian budaya Lewohala sebagai warisan lelulur.
Tak beda dengan wakil Bupati, Ritual pesta kacang di Lewohala dalam pengamatannya mulai bergeser mengikuti perkembangan jaman. Karena itu dialog ini menjadi penting guna melihat dan menggali kembali keaslian budaya Lewohala untuk dijaga di lestarikan.
Lebih jauh dalam sambutan itu, Linus mengatakan demi melindungi budaya lokal, DPRD Lembata belum lama ini telah membahas dan menetapkan Peraturan Daerah nomor 6 tahun 2014 tentang Pelestarian Budaya Warisan Leluhur.
Seperti disaksikan, dialog budaya ini diawali dengan penyampaian materi dengan menghadirkan empat orang pembicara masing-masing Wakil Bupati Lembata Viktor Mado Wathun, Kepala Dinas Pariwisata Longginus Lega, salah satu akademisi asal Lewohala Linus Lusi Making dan tokoh adat Lewohala, Stefanus Lodan Halimaking.
Dialog ini membahas dua topik diskusi yakni, struktur adat kampung adat Lewohala, dan proses ritual pesta kacang. Kedua aspek ini didialogkan untuk menggali dan menemukan kembali budaya warisan leluhur untuk dikembangkan menjadi daya tarik pariwisata baik lokal, Nasional maupun manca negara sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat adat Lewohala.
Orang Lewohala Masih Jaga Keaslian Budaya
Menanggapi topik diskusi dan pernyataan bernada kekhawatiran yang terungkap dalam acara dialog masyarakat adat Lewohala ini, Aloysius Bagasi Making salah satu anak Lewohala di sela-sela diskusi kepada floresbangkit.com mengatakan, kekhawatiran akan punahnya budaya Lewohala merupakan hal wajar, namun secara umum masyarakat adat lewohala masih teguh mempertahankan budayanya sebagai warisan leluhur.
Kendati demikian, dia mengakui jika dalam beberapa hal keaslian budayanya d rubah mengkuti perkembangan jaman. “Saya akui kalau ada sedikit perubahan terutama terkait struktur asli rumah adat, dan cara berpakaian warga lewohala saat menghadiri pesta kacang, tetapi dari sisi ritual tidak ada perubahan, kami tetap mempertahankan itu sebagai warisan leluhur,” ujarnya.
Sementara terkait rencana pengembangan kampung adat Lewohala sebagai daerah tujuan wisata, Bagasi Making mengatakan, menjadi kewajiban pemerintah Kabupaten Lembata untuk mempromosikan potensi wisata Lewohala, apalagi tujuannya adalah kesejahteraan rakyat.
“Orang Lewohala menggelar pesta kacang itu untuk mengucap syukur kepada sang pencipta dan mendekatkan dirinya dengan leluhurnya. Jadi kalau ini dilihat unik dan punya potensi wisata, itu tugas pemerintah untuk memperkenalkan kepada dunia luar. Tetapi ingat, kami orang lewohala tidak menggelar ritual pesta kacang karena ada pariwisata. Saya perlu tegaskan ini, supaya orang jangan salah persepsi,” ungkapnya. (Yogi Making
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2014/08/tata-kampung-adat-disbudpar-lembata-gelar-dialog-budaya/#sthash.yJpXXanE.dpuf

Tata Kampung Adat, Disbudpar Lembata Gelar Dialog Budaya


Warga Lewohala yang hadir dalam dialog budaya di Pantai Teluk Jontona, Sabtu (23/8). (Foto : FBC/Yogi Making)
Warga Lewohala yang hadir dalam dialog budaya di Pantai Teluk Jontona, Sabtu (23/8). (Foto : FBC/Yogi Making)
LEWOLEBA, FBC-Pemerintah Kabupaten Lembata melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lembata menggelar dialog budaya dengan tema “Membangun Tata Kelola Kampung Adat Lewohala Berbasis Budaya” bertempat pantai teluk desa Jontona, Kecamtan Ile Ape Timur, Sabtu (23/8).
Kegiatan dimaksud dihadiri  200 orang yang merupakan perwakilan masyarakat adat Lewohala, yang bermukim di tujuh desa dalam wilayah kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur. Dihadiri juga Wakil Bupati Lembata, Viktor Mado Wathun, Anggota DPRD Lembata Linus Beseng dan beberapa orang pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Wakil Bupati Viktor Mado Wathun dalam sambutan di awal kegiatan mengungkapkan keprihatinannya terhadap budaya Lewohala yang mulai berubah di pengaruhi budaya modern. Dia mencontohkan, beberapa rumah-rumah adat di kampung tua orang Lewohala yang dulunya beratap daun kelapa dan rumput alang-alang kini diganti dengan atap seng.
Menurutnya, perubahan ini karena sebagian warga Lewohala tak lagi menghargai budayanya sebagai warisan leluhur yang harus dilestarikan. “Saya lihat beberapa rumah adat diatapnya dengan seng, ini sebuah bukti kalau kita mulai terpengaruh dengan budaya modern dan perlahan-lahan kita mulai tinggalkan budaya kita sendiri,” ujar Mado Wathun.
Dengan demikian dia berharap, agar penguasa adat Lewohala supaya menghimbau warga suku pemilik rumah yang diganti dengan atap seng supaya di bongkar dan dibagun kembali sesuai bentuk aslinya.
Lebih jauh Mado Wathun mengatakan, oleh karena keunikan itu, Pemerintah Kabupaten Lembata telah menetapkan Lewohala sebagai salah satu destinasi pariwisata. Dan karena itu pemerintah melalui dinas dan badan terkait harus membuat perencanaan demi pengembangan Lewohala sebagai daerah tujuan wisata di Kabupaten Lembata.
Sayangnya moment penting itu tidak dihadiri oleh beberapa kepala SKPD  yang harusnya menjadi stake holder dalam rencana pengembangan Lewohala sebagai kampung pariwisata. Seperti di saksikan Mado Wathun dalam sambutan itu mengecek satu persatu kepala SKPD yang menurutnya wajib hadir dalam dialog itu.
“Saya omong begini karena banyak pejabat di Kabupaten kita ini pintar cuci tangan. Jangan sampai setelah kita bahas, lalu mereka bilang tidak tahu. Kalau Pak Bupati dia agak slow, tapi kalau saya pasti saya cek,” katanya.
Sementara itu, Linus Beseng anggota DPRD Lembata yang hadir mewakili pimpinan DPRD Kabupaten Lembata, dalam sambutannya menghimbau warga Lewohala supaya tetap mempertahankan keaslian budaya Lewohala sebagai warisan lelulur.
Tak beda dengan wakil Bupati, Ritual pesta kacang di Lewohala dalam pengamatannya mulai bergeser mengikuti perkembangan jaman. Karena itu dialog ini menjadi penting guna melihat dan menggali kembali keaslian budaya Lewohala untuk dijaga di lestarikan.
Lebih jauh dalam sambutan itu, Linus mengatakan demi melindungi budaya lokal, DPRD Lembata belum lama ini telah membahas dan menetapkan Peraturan Daerah nomor 6 tahun 2014 tentang Pelestarian Budaya Warisan Leluhur.
Seperti disaksikan, dialog budaya ini diawali dengan penyampaian materi dengan menghadirkan empat orang pembicara masing-masing Wakil Bupati Lembata Viktor Mado Wathun, Kepala Dinas Pariwisata Longginus Lega, salah satu akademisi asal Lewohala Linus Lusi Making dan tokoh adat Lewohala, Stefanus Lodan Halimaking.
Dialog ini membahas dua topik diskusi yakni, struktur adat kampung adat Lewohala, dan proses ritual pesta kacang. Kedua aspek ini didialogkan untuk menggali dan menemukan kembali budaya warisan leluhur untuk dikembangkan menjadi daya tarik pariwisata baik lokal, Nasional maupun manca negara sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat adat Lewohala.
Orang Lewohala Masih Jaga Keaslian Budaya
Menanggapi topik diskusi dan pernyataan bernada kekhawatiran yang terungkap dalam acara dialog masyarakat adat Lewohala ini, Aloysius Bagasi Making salah satu anak Lewohala di sela-sela diskusi kepada floresbangkit.com mengatakan, kekhawatiran akan punahnya budaya Lewohala merupakan hal wajar, namun secara umum masyarakat adat lewohala masih teguh mempertahankan budayanya sebagai warisan leluhur.
Kendati demikian, dia mengakui jika dalam beberapa hal keaslian budayanya d rubah mengkuti perkembangan jaman. “Saya akui kalau ada sedikit perubahan terutama terkait struktur asli rumah adat, dan cara berpakaian warga lewohala saat menghadiri pesta kacang, tetapi dari sisi ritual tidak ada perubahan, kami tetap mempertahankan itu sebagai warisan leluhur,” ujarnya.
Sementara terkait rencana pengembangan kampung adat Lewohala sebagai daerah tujuan wisata, Bagasi Making mengatakan, menjadi kewajiban pemerintah Kabupaten Lembata untuk mempromosikan potensi wisata Lewohala, apalagi tujuannya adalah kesejahteraan rakyat.
“Orang Lewohala menggelar pesta kacang itu untuk mengucap syukur kepada sang pencipta dan mendekatkan dirinya dengan leluhurnya. Jadi kalau ini dilihat unik dan punya potensi wisata, itu tugas pemerintah untuk memperkenalkan kepada dunia luar. Tetapi ingat, kami orang lewohala tidak menggelar ritual pesta kacang karena ada pariwisata. Saya perlu tegaskan ini, supaya orang jangan salah persepsi,” ungkapnya. (Yogi Making
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2014/08/tata-kampung-adat-disbudpar-lembata-gelar-dialog-budaya/#sthash.yJpXXanE.dpuf
Share:

Jumat, 01 Agustus 2014

Bukan hanya “Nona Lembata pakai CU”, Nona Kupang pun heboh

Bukan hanya “Nona Lembata pakai CU”, Nona Kupang pun heboh


cu 
Foto : Ilustrasi

KOMODONEWS.info – Di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus marak Nona-nona pakai celana pendek dari bahan jeans atau katun. Sangking fenomenalnya, ada lagu berjudul Nona Lembata Pakai CU (Celana Umpan).
Bukan hanya Nona Lembata yang mengenakan CU, Nona-nona Kupang juga tak kalahnya. Tubuhnya yang seksi karena rajin senam atau berolah raga, dan perawatan kulit menyebatkan warna kulit menjadi kuning langsat, laksana pepaya setengah matang.
Jika melihat Nona-nona Kupang pakai CU, jangan coba-coba mencandainya, atau memandangnya lama-lama, bisa kena bogem mentah, minimal disemprot dengan kata-kata yang terbilang bisa menukik ke jantung.
Walau begitu, kharakter Nona-nona Kupang itu lembut. Malah jauh lebih lembut dari kapas tua. Jarang marah-marah. Cuma lebih banyak mengatakan melalui sorot matanya yang setajam silet.
Hal menarik lainnya yang jarang ditemui di belahan dunia manapun adalah tingkat kesetiaan cinta dan ketulusan Nona-nona Kupang melayani suami atau kekasih hatinya.
Pada akhirnya bikin Kota Kupang yang adalah baro meter provinsi NTT ini bermandikan kasih dimana-mana, karena streotipe lainnya dari Kota Kupang adalah Kota Kasih. (Vincent)
Share:
Flag Counter

Featured Post 3

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support