Kamis, 05 Januari 2017

Jadi Runner up Liga Indonesia 2016, PSN Ngada Diundang Ikut Piala Kapolda Jogja


Keberhasilan PSN Ngada tampil sebagai runner up Liga Indonesia 2016, cukup menarik perhatian dunia sepak bola Nasional.

Buktinya, PSN Ngada menjadi salah satu tim yang diundang untuk berpartisipasi di Piala Kapolda Jogjakarta.

Event tersebut akan digeber di Stadion Maguwoharjo, Sleman – Jogjakarta itu akan mulai dihelat awal Februari mendatang.

”Format awal adalah dua grup dengan dua teratas masing-masing grup lolos ke semifinal,” ujar R. Soejoso W.S. salah satu panitia penyelenggara ketika dihubungi Jawa Pos kemarin (2/12).

Selain PSN Ngada masih ada tujuh klub lainnya yang akan ikut serta. Mereka adalah Persebaya Surabaya, PSIS Semarang, PSS Sleman, PSIM Jogjakarta, Persikama Kab Magelang, Perseru Serui, dan antara Persita Tangerang atau Persijap Jepara. ”Untuk Persita dan Persijap, masih akan kami godok lebih lanjut,” sambungnya.

Untuk durasi, pria yang akrab disapa Yossi itu mengatakan bahwa estimasi Piala Kapolda Jogjakarta akan berlangsung selama 10 hari. ”Event ini juga kami gunakan sebagai persiapan tim-tim menuju kompetisi resmi,” lanjut pria 60 tahun itu.

Memang, rencananya, Indonesia Super League (ISL) dan Divisi Utama akan mulai dilaksanakan mulai Maret. ”Untuk tanggal memang belum. Namun, diharapkan sebelum Maret bisa selesai. Sebab, kami juga ingin memberikan waktu bagi klub peserta untuk menyiapkan diri di kompetisi resmi,” katanya.

Sementara itu, Coach PSN Ngada Kletus gabhe yang dhubungi koran ini semalam mengungkapkan bahwa secara verbal PSN Ngada juga sudah memperoleh informasi tersebut bahwa PSN juga diundang untuk mengikuti even tersebut.

“Namun sampai saat ini undangan resmi dari panitia, belum kami terima,” ungkapnya.

Walau belum mnerima undangan resmi lanjutnya, dalam pertemuan terakhir bersama manajemen tim, telah disepakati bersama bahwa PSN akan memenuhi undangan tersebut, jika undangan resmi sampai ke tangan PSN Ngada.

“Jadi kita siap untuk berpartisipasi jika undangan resmi kamia terima,” katanya.

“Bahkan mulai besok, Selasa 3 Januari 2017 PSN sudah mulai menggelar latihan perdana dan seleksi dalam rangka persiapan menuju turnamen tersebut,” pungksanya.

Sumber: http://timorexpress.fajar.co.id

Share:

Miris, Presiden Jokowi Rajin ke NTT, Penduduk Miskin Malah Makin Bertambah

 

Sudah berulang kali Presiden Jokowi ke provinsi NTT , ironisnya jumlah penduduk di NTT kian bertambah. Kehadiran presiden ternyata ternyata belum membawa perubahan terhadap kemiskinan di NTT. Dalam dua tahun terakhir makin banyak rakyat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang miskin. Pada tahun 2015 dan 2016 NTT berada pada peringkat ketiga provinsi termiskin di Indonesia setelah Papua dan Papua Barat. Sebelumnya pada tahun 2013 dan 2014, NTT berada di urutan keempat.

Ketika menggelar jumpa pers di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) NTT di Kupang, Selasa (3/1/2017), Kepala BPS NTT, Maritje Pattiwaellapia menyebutkan, hingga September 2016 NTT masuk peringkat ketiga untuk jumlah penduduk miskin di Indonesia setelah Provinsi Papua dan Papua Barat. Jumlah penduduk miskin di NTT mencapai 22,01 persen atau 1.150.080 orang dari sekitar 5, 2 juta penduduk provinsi ini.

Ia menjelaskan, jumlah penduduk miskin di NTT pada September 2016 meningkat 160 orang dibanding jumlah penduduk miskin pada Maret 2016 yang berjumlah 1.149.920 orang (22,19 persen).

Berdasarkan daerah tempat tinggal, lanjutnya, selama periode Maret hingga September 2016, persentase penduduk miskin di daerah pedesaan menurun sebanyak 300 orang (dari 1.037.900 orang menjadi 1.037.600 orang) dan untuk penduduk perkotaan mengalami kenaikan sebanyak 460 orang (dari 112.020 orang menjadi 112.480 orang).

Pada periode Maret-September 2016, kata Maritje, garis kemiskinan naik sebesar 1,26 persen. Naik dari Rp 322.947 per kapita per bulan pada Maret 2016 menjadi Rp 327.003 per kapita per bulan pada September 2016.

Dikatakannya, peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan dengan peranan komoditi bukan makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan.

Maritje menyatakan, peran BPS adalah memotret kondisi kemiskinan di NTT untuk dicarikan solusinya. "Peranan BPS yaitu memantau, memotret kondisi kemiskinan di daerah ini. Diperlukan kerja sama semua pihak untuk mengentaskan kemiskinan," tuturnya.

Maritje menyebutkan, pada tahun 2013 dan 2014, Provinsi NTT berada di urutan keempat provinsi dengan penduduk miskin terbanyak di Indonesia. Namun, pada tahun 2015 naik lagi ke peringkat ketiga. "Mau turunkan lagi agak susah, apalagi kebutuhan pokok pada mahal. Punya hasil bumi banyak tetapi miskin, apa ada yang salah? Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih baik lagi," ujarnya.

Ia menjelaskan komoditi yang memberi sumbangan besar terhadap garis kemiskinan di NTT pada September 2016, baik di perkotaan maupun pedesaan adalah beras kemudian diikuti rokok.

"Masyarakat kita merasa tidak makan, tidak apa-apa yang penting kereta apinya (merokok, Red) lancar terus. Ini pola konsumsi yang kurang bagus. Biar rokok harganya mahal tetap merokok. Padahal masyarakat dengan penghasilan rendah seharusnya memprioritaskan kebutuhan mendasar dibandingkan kebutuhan lainnya," kata dia. Dia menambahkan, apabila penduduk memiliki penghasilan per bulan Rp 1.500.000 tidak masuk kategori miskin.

Sumber: http://kupang.tribunnews.com
Share:

Rabu, 04 Januari 2017

Bikin Haru Isi Surat Warga Eks Timtim Kepada Presiden Jokowi





"Kami warga Indonesia eks pengungsi Timor Timur tanpa rumah dan lahan garapan untuk hidup. Kami berharap Pak Presiden dan Ibu Negara bisa membantu mengubah kehidupan kami," kata salah seorang tokoh warga pengungsi eks Timor Timur di Atambua, Mariano Parada, di Belu, Kamis (29/12/2016).

Surat sudah disampaikan langsung kepada Presiden Joko Widodo saat lawatannya ke Kabupaten Belu untuk meresmikan Pintu Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain, Rabu (28/12/2016).

Menurut Mariano, surat yang ditulis atas refleksi semua warga eks pengungsi Timor Timur, yang memilih bertahan demi kecintaannya untuk NKRI pasca-kalah jajak pendapat pada 17 tahun silam, itu langsung disampaikan ke Presiden Joko Widodo dengan menghadang lintasan mobil yang ditumpangi orang nomor satu RI itu.

"Saya dengan beberapa tokoh masyarakat melakukan penghadangan dengan sebuah spanduk bertuliskan 'Kami Warga Eks Pengungsi Timor Timur Merindukan Kedatangan Bapak'," katanya.

Penghadangan, kata dia, dilakukan sesaat setelah kendaraan Presiden hendak menuju ke Bandara AA Beretalo di Atambua setelah dari Motaain untuk selanjutnya menuju Motamasin.

"Saat itu, Pak Presiden melihat kami, lalu Pak Presiden menghentikan mobil dan memanggil saya. Saya lalu berlari mendekati mobil Pak Presiden, mencium tangannya, dan menyerahkan surat itu langsung ke tangan beliau," katanya.

Setelah surat diserahkan, sebut dia, Paspampres kemudian meminta dia untuk mundur sehingga kendaraan Presiden Jokowi bisa melanjutkan perjalanan ke bandara di ufuk Timur Pulau Timor itu.

Dia berharap dengan diterimanya surat warga eks pengungsi Timor Timur itu, akan ada langkah konkret pemerintah untuk warga yang masih bertahan demi Merah Putih di daerah itu.

Berikut isi surat lengkap eks pengungsi Timor Timur yang berada di Kabupaten Belu itu.

"Kepada Yth Bapak Presiden RI Joko Widodo yang kami cintai dan Ibunda Negara yang kami kasihi

Salam hormat dan permohonan maaf sebesar-besarnya sebelumnya kami menyampaikan kepada Bapak Presiden dan Ibunda Negara karena telah lancang menulis dan mengirim surat ini sehingga telah mengganggu tugas Bapak Presiden dan Ibunda Negara.

Bapak Presiden dan Ibunda Negara yang kami kasihi

Apa yang kami sampaikan ini merupakan suara perempuan dan laki-laki serta anak-anak yang masih tinggal di kamp-kamp. Suara orang tanpa tanah, tanpa rumah, tanpa kepastian masa depan. Suara petani perempuan dan laki-laki serta anak-anak di settlement-settlement tanpa lahan garapan untuk hidup. Hingga saat ini, 17 tahun sudah kami WNI eks pengungsi Timor Timur bertahan hidup dalam keterbatasan.

Bapak Presiden dan Ibunda Negara yang kami kasihi 



Warga eks pengungsi Timor Timur yang tinggal di kamp pengungsian dan resetlemen di wilayah Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menyampaikan surat permohonan bantuan untuk mengubah kondisi kehidupan mereka kepada Presiden Joko Widodo.

Kami mohon Bapak Presiden dan Ibunda Negara untuk berkenan memikirkan dan mau melakukan sesuatu karena kami yakin dan percaya niat, ketulusan dan kesederhanaan Bapak Presiden dan Ibunda Negara dapat membantu, memgubah, dan menyelamatkan kami dari penderitaan yang selama ini kami alami.

Terima kasih. Atambua, 28 Desember 2016

Hormat Kami,

1. Jeka Pereira
2. Saturmino Do Rosario
3. Celestino Goncalves
4. Carlos Goncalves
5. Mariano Parada"


Sumber: tribunnews.com
Share:

BUPATI KAMPUNGAN

Bupati Yantje Sunur menghebohkan masa pengunjung pengadilan Negeri (PN) Lewoleba, Selasa (15/9). Saat itu Ia barusan mendapat kuliah hukum gratis dari Akhmad Bumi dalam sidang kasus dugaan pemalsuan Dokumen pemakzulan atas dirinya oleh DPRD dengan terdakwa Philipus Bediona. Pengunjung sidang PN Lewoleba menyaksikan sendiri bagaimana bupati Lembata ini terpancing emosi dan meledak marah saat Akhmad Bumi menanyakan dugaan pemerasan yang dilakukannya terhadap kontraktor Paulus Lembata. Kasus ini telah dilaporkan sebelumnya ke Polres Lembata tetapi didiamkan oleh Kapolres Wresni Satya Nugroho hingga detik ini.

Dalam kemarahannya, bupati Yantje Sunur menunjuk – nunjuk dan mengatai – ngatai romo Frans Amanue sebagai biang kerok dari segala persoalan di Kabupaten Lembata (FP 16/9). Padahal seperti yang disampaikan romo Frans - Bupati Yantje Sunur sendirilah yang justru sedang berperkara dan baru saja memberikan kesaksian setelah nyaris dipanggil paksa oleh jaksa karena telah mengabaikan panggilan sidang lebih dari batas normal dan waras secara hukum. Romo Frans Amanue menyebut tindakan bupati Yantje sunur ini dengan “ Perilaku kampungan”.

Perilaku kampungan ini pernah dialami romo Frans Amanue ketika sopir pribadi Yantje Sunur bernama Omi Wuwur – salah satu tersangka kasus Lorens Wadu – pernah mencegat Romo Frans dalam kaitannya dengan kasus terbunuhnya Lores Wadu. Romo Frans Amanue selama ini getol memperjuangkan kebenaran dan keadilan hukum dalam banyak kasus criminal yang diduga melibatkan bupati Yantje Sunur. Ia juga sangat aktif menggunakan media khususnya Flores Pos untuk mencerahkan kesadaran dan mencerdaskan rasionalitas public melalui tulisan dan pernyataan sikap yang keras dan konsisten demi kemaslahatan rakyat.

Romo Frans menggunakan kata “Kampungan” untuk melukiskan perilaku seorang pejabat selevel bupati semodel Yantje Sunur ini. Kamus besar Bahasa Indonesia menerangkan kata “kampungan” dengan arti : berkaitan dengan kebiasaan di kampung, terbelakang (belum modern), kolot, tidak tahu sopan santun, tidak terdidik, kurang ajar (2008: 614). Romo Frans Amanue adalah rohaniwan katolik yang sangat terhormat dan bermartabat. Menurut Bernadus Sesa Manuk, perilaku kampungan bupati itu patut diduga telah direncanakan dan menjadi provokasi untuk memancing emosi masa (FP 19/9). Tapi orang Lembata tidak terpancing dengan perilaku kampungan bupati model ini. Mayoritas rakyat Lembata tinggal dikampung – kampung tetapi terhormat dan bermartabat. Mereka sangat menghormati sesamanya. Orang – orang Lembata memang tinggal di kampung – kampung, tetapi perilaku, sikap dan tutur kata mereka tidak kampungan dengan rohaniwan katolik yang sangat dihargai dan dihormati. Orang- orang kampung di Lembata tidak pernah berlaku kasar, mengkambing hitamkan dan mengumbar kekerasan kepada seorang pastor. Orang – orang Lembata memang lahir dan tinggal di kampung tetapi perilaku mereka lebih beradab dari perilaku bupati.

Selama ini romo Frans tidak pernah memeras orang, tidak pernah melaporkan orang ke polisi, tidak pernah mendalangi pembunuhan siapapun, dan tidak pernah menggunakan uang rakyat untuk melakukan perjalanan dinas berminggu – mingu. Romo Frans lebih pantas menjadi Bupati Lembata karena lebih sering berada di Lembata dan memperjuangkan tegaknya hukum, kebenaran dan keadian di tanah Lembata. Jadi, masihkah rakyat Lembata akan memilih lagi orang – orang arogan berperilaku kampungan sebagai pemimpin mereka dimasa yang akan datang?

(SUMBER: Buku “Lembata Negeri Kecil Salah Urus”, Karya Steph Tupeng Witin)
Share:

Selasa, 03 Januari 2017

BUPATI TPI


Zubaidah adalah wanita muslim pemberani yang berdagang dipasar Pada. Lahir dirayuan Kelapa kelurahan Lewoleba Utara, Kecamatan Nubatukan, 19 September 1972. Pendidikan SMA Negeri 1 Nubatukan (Sampai kelas 1). Suaminya, Iwan adalah nelayan. Anak – anaknya; Ira, sudah menikah, Faizal, Kuliah di Kupang, Megawati, kelas 3 SMA dan Marzuki, kelas 6 SD. Ia sendiri mengaku bahwa pendidikannya sangat terbatas. Tapi kata – kata dan keberaniannya membuktikan bahwa Zubaidah cerdas dalam diri dan kemampuannya. Ia berani berbicara tentang kelakuan pemimpin seperti bupati Yantje Sunur. Ia tahu betul tingkah pola pemimpin rakyat Lembata ini yang lebih pantas disebut “Bupati Pedagang TPI”. Kata – kata zubaidah menyiratkan kejujuran yang otentik. Zubaidah bicara dari konteksnya sebagai rakyat kecil yang dituntut menaati aturan sementara bupati Yantje Sunur justru melanggar peraturan daerah (Perda) yang Ia tandatangani sendiri. Zubaidah gerah dengan pemimpin Lembata yang memakai kekuasaannya untuk melanggar peraturan yang ia tuntut harus ditaati pedagang kecil seperti Zubaidah. Maka para pedagang melakukan protes dengan aksi konkret : berjualan di Taman Kota “Swaolsa Titen”.

Zubaidah adalah representasi sikap cerdas dan bening nurani rakyat jalata yang akan sangat mengagumi dan menghormati pemimpin yang jujur dan benar tapi sekaligus akan menjadi garang dan kasar melawan penguasa yang melanggar peraturan sesukanya. Zubaidah berjuang untuk ratusan pedagang pasar pada yang menjadi korban pelanggaran Perda Nomor 13 Tahun 2004 oleh Bupati Yantje sunur. Perda ini menegaskan bahwa di Kota Lewoleba hanya ada dua pasar yaitu pasar Pada dan Lamahora. TPI itu Tempat Pendaratan Ikan yang awalnya menjadi Pasar Senja. Tapi Bupati Yantje Sunur menjadikannya pasar harian selama 4 tahun. Ratusan pedagang pasar pada adalah orang – orang sederhana yang datang dari kampung – kampung di Lembata untuk mengadu nasib. Mereka datang ke pasar Pada karena tahu bahwa inilah pasar yang resmi. Keluhan telah disampaikan berulangkali kepada DPRD dan pemerintah. Tapi didengarkan pun tidak, apalagi dilaksanakan. Bupati Yantje Sunur malah lebih sibuk berpesta bersama pedagang TPI yang merayakan HUT ke – 4 pasar TPI. Orang – orang kecil yang berjuang dengan mengalirkan keringat sendiri seperti inilah yang merupakan kritik paling hidup dan berenergi.

Mari kit baca Narasi Zubaidah tentang perilaku bupati Yantje Sunur pada perayaan HUT ke - 4 pasar TPI. Disebuah Koran terbitan Kupang yang wartawannya di Lewoleba disebut “Wakil Bupati”, ada foto bupati Yantje Sunur sedang disuapi oleh seorang pedagang TPI wanita. Pembaca yang buta realitas politik di Lembata akan bergumam “Bupati Merakyat”. Tapi pembaca kritis yang tahu warna kulit politik Lembata akan tertawa geli. Adegan itu hanya sandiwara murahan dan pencitraan basi. Menurut Zubaidah, dalam perayaan itu bupati Yantje Sunur menyampaikan beberapa hal. Pertama, tidak ada satu orang pun menggugat pedagang TPI selagi dia masih menjadi Bupati Lembata. Kedua, TPI adalah pasar rakyat, bukan pasar pemerintah. Ketiga, TPI jadi tempat wisata dan tidak ada penambahan pedagang. Keempat, para pedagang diminta menyampaikan kepada keluarga besar mereka masing – masing bahwa Yantje Sunur akan maju lagi dalam Pilkada nanti (FP 28/3). Pedagang TPI pasti bersorak karena Yantje Sunur telah menjadi bupati mereka selama 4 tahun. Lembata ia rangkum seperti Tempat Pendaratan Ikan. Pedagang TPI pasti mendukung calon bupati yang akan memimpin TPI berjualan ikan. Orang – orang di TPI pasti mendukung Dia karena hanya Dia yang selalu setia datang di TPI. Maka layaklah jika Ia digelari “Bupati TPI”. Ini yang membedakan dengan bupati Lembata yang mengunjungi seluruh rakyat, tidak melanggar perda nomor 12 tahun 2004 hanya untuk sebuah pencitraan semu setelah terpental dengan sangat menyakitkan dan memalukan dari pentas pencalonan ketua DPC PDIP Lembata. Kita patut menduga, di TPI inilah Yantje Sunur menemukan demokrasi yang sesungguhnya yang Ia pertanyakan di PDIP selepas keputusan DPP PDIP yang menumbangkan dirinya.

Zubaidah telah menginspirasi seluruh rakyat Lembata agar menyudahi masa kepemimpinan saat ini melalui proses politik dan demokrasi pilkada nanti. Pemimpin saat ini lebih cocok memimpin para pedagang ikan di TPI. Mengapa? Karena para pedagang di TPI tidak akan membantahnya, tidak akan mengkritiknya dan hanya sanggup mengiyakan apapun kehendak bupati, seorang bupati yang tak punya kapasitas pemimpin sebagai seorang pemimpin sejati.

(SUMBER: Buku “Lembata Negeri Kecil Salah Urus”, Karya Steph Tupeng Witin)
Share:

Senin, 02 Januari 2017

MENGENAKAN KEMEJA DAN SARUNG KOTAK-KOTAK, PRESIDEN JOKOWI RAYAKAN TAHUN BARU DI RUMAH


Presiden Joko Widodo merayakan pergantian tahun baru dari 2016 ke 2017 di Istana Bogor, Jawa Barat. Dari halaman Istana Bogor, Jokowi menikmati meriahnya kembang api. Jokowi mengunggah foto kegiatannya itu di akun Twitter @Jokowi pada Minggu (1/12/2017) dini hari.

Dalam foto tersebut, Jokowi tampak duduk di taman Istana Bogor dengan mengenakan kemeja dan sarung kotak-kotak. Di latar belakang foto tampak bangunan Istana Bogor yang diselimuti meriahnya kembang api.

"00.00 Tahun 2017 di rumah saja SELAMAT TAHUN BARU -Jkw," kicau Jokowi.

Foto ini mengingatkan momentum Jokowi saat pegantian tahun 2015 ke 2016. Saat itu, Jokowi juga mengunggah fotonya tengah bersarung saat menikmati sunrise atau matahari pertama 2016 di Raja Ampat, Papua Barat.

Sejak Sabtu (31/12/2016) siang Jokowi menghabiskan waktu menjelang akhir pergantian tahun bersama keluarganya. Ia bersama keluarga sempat jalan jalan ke Botani Square, Bogor, untuk menonton film Cek Toko Sebelah.

Dalam film itu, putera bungsu Jokowi Kaesang Pangarep menjadi Cameo atau bintang tamu.

Lalu Jokowi juga sempat mengunggah video kegiatannya bersama Kaesang dan puterinya, Kahiyang Ayu di YouTube. Dalam video, Jokowi ditemani kedua anaknya menelpon Neisha, bocah asal Tomohon.

Neisha sebelumnya sempat menangis karena tidak bisa bertemu Jokowi saat Presiden melakukan kunjungan kerja ke Sulawesi Utara, Selasa (27/12/2016) lalu. Video Neisha yang menangis sebelumnya di-upload sang Ibu di Facebook dan menjadi viral.

Sumber: tribunnews.com

Share:

MELAWAN KEANGKUHAN (Apresiasi Untuk Wabup Viktor Mado Watun)


Rakyat Lembata tidak heran ketika Bupati Yantje Sunur melarang semua SKPD menghadiri sidang paripurna DPRD. Yantje Sunur juga melarang dinas terkait melanggar rapat kerja dengan DPRD terkait persoalan pasar Pada. Bupati Sunur juga melarang SKPD mengikuti sidang paripuna penyampaian laporan keterangan pertanggunganjawaban (LKPj) tahun anggaran 2014 (FP 1/4). Fakta memalukan ini baru pertama kali terjadi dalam birokrasi di Propinsi NTT. Seorang Bupati menempatkan diri sebagai satu-satunya unsur dalam birokrasi. Padahal masih ada wakil bupati, sekretaris daerah, asisten, kepala dinas, kepala bagian dan sebagainya. Otoritarianisme ini semakin membuktikan bahwa Yantje Sunur tidak memahami manajemen birokrasi. Dia dengan sangat sepeleh mengabaikan jadwal yang telah disepakati eksekutif dan legislatif. Padahal itu pembangkangan terhadap undang-undang. Apa yang bisa rakyat harapkan dari bupati yang melanggar regulasi.

Rakyat Lembata mengapresiasi perlawanan Wabup Viktor Mado Watun yang menghadiri sidang paripurna DPRD untuk LKPj. Aparat birokrasi yang lain pasti tidak hadir karna memang selama ini mereka mengabdi pada ketidakbenaran. Orang begitu dangkal memahami ketaatan dalam birokrasi. Publik Lembata ingat saat Kobus Liwa tidak menyapa Yantje Sunur sebagai bupati, sang bupati meninggalkan DPRD dan memerintahkan SKPD melakukan hal yang sama. Memalukan. Bagai kerbau di cocok hidung, SKPD seperti kawanan domba yang dihalau gembala ke tengah parit. Orang jadi tak habis pikir apakah aparat birokrasi di Lembata mengabdi dengan otak dan nurani ataukah mengabdikan diri kepada hasrat akan kekuasaan? Takut hilang jabatan? Artinya, merelakan martabat diinjak-injak sebagai sampah busuk.

Perlawanan Wabup Viktor Mado Watun adalah bukti bahwa birokrasi Lembata masih dihuni oleh orang – orang asli tanah Lembata, lahir dan hidup ditanah Lembata dengan kesederhanaan dan berikhtiar mendedikasikan hidupnya untuk membangun Lembata. Perlawanan Wabup Viktor Mado Watun adalah argumentasi bahwa Lembata masih memiliki calon pemimpin masa depan yang lahir sederhana dari Rahim PDI Perjuangan yang hampir saja direbut dengan sangat kasar dan tidak bermartabat oleh Bupati Yantje Sunur untuk dijadikan sekedar kuda tunggangan politik instan mempertahankan proses perusakan peradaban politik dan merepresi rasionalitas aparat birokrasi Lembata dengan motto “Saya Butuh Pejabat yang bodoh tapi Loyal”. Perlawanan Wabup Viktor Mado Watun terhadap arogansi dan kesewenang – wenangan Yantje Sunur yang kebetulan menjadi Bupati Lembata adalah proses pencerahan kepada aparatur birokrasi di Lembata, mulai dari Sekda hingga cleaning service agar membangun Lembata dan mengabdi rakyat dengan otak yang cerdas dan nurani yang bening. Ketaatan tidak berarti membutakan nurani dan menumpulkan otak. Ketaatan harus identik dengan mengabdi kebenaran.

Kita mengapresiasi perlawanan Wakil Bupati Viktor Mado Watun terhadap arogansi dan kesewenang – wenangan Bupati Yantje Sunur yang patut diduga selama ini memimpin birokrasi dengan halusinasi dan membangun Lembata dengan mimpi siang bolong. Lembata dalam masa kepemimpinan Yantje Sunur ibarat aquarium bagi proyek – proyek khususnya multiyears yang gagal total dan membonsai aparat birokrasi agar menjadi hamba sahaya yang loyal tapi kehilangan kewarasan. Maka kita akan menjumpai Kabag Humas Karel Burin yang bermimpi membangun jembatan layang. Mimpi Karel Burin ini idem dengan mimpi bupati Yantje Sunur untuk membangun 1.000 patung di bawah laut dan lapangan sepakbola di kawah gunung api aktif Ile Kimok. Orang yang sedang mabuk memang tidak tahu bahwa ia sedang mabuk. Maka Lembata butuh pemimpin seperti Viktor Mado Watun untuk mengingatkan agar terjaga dari kemabukan!


(SUMBER: Buku “Lembata Negeri Kecil Salah Urus”, Karya Steph Tupeng Witin)
Share:
Flag Counter

Featured Post 3

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support