Senin, 05 Januari 2015

Cur Deus Homo


KITA telah  merayakan Natal dengan berbagai dinamikanya. Natal adalah suatu peristiwa iman, dimana “Allah menjadi manusia”. Oleh karena itu, dalam memaknai Natal, baiklah kita renung sejenak tentang mengapa Allah menjadi manusia?

Judul di atas berasal dari bahasa Latin yang artinya “Mengapa Allah menjadi manusia?” yang pernah diajukan oleh Uskup Agung Cantebury Anselmus (tahun 1100). Dalam bukunya berjudul “Cur Deus Homo” yang diterjemahkan menjadi “Mengapa Allah menjadi manusia?”.

ia mengemukakan alasan mengapa Allah mau menjadi manusia karena Allah tidak dapat menutup realita dari kuasa dosa yang menguasai kehidupan manusia. Realita kuasa dosa dalam kehidupan manusia sangatlah melukai hati-Nya. Dosa manusia telah melawan kekudusan-Nya.

Padahal kekudusan Allah adalah seperti api yang menghanguskan (Ibr. 12:29). Itu sebabnya setiap dosa yang diperbuat oleh umat manusia seharusnya dibinasakan. Apabila kita melihat pemikiran Anselmus yang mengajukan pertanyaan hakiki itu, maka kita dapat melihat dasar argumentasi yang utama pada korban pendamaian yang telah dilakukan Allah melalui kelahiran-Nya di dunia dan karya penyaliban Kristus. Sebab melalui peristiwa tersebut, Allah di dalam Kristus menjadi korban yang mendamaikan.

Pemahaman korban pendamaian dalam hukum Taurat disebut sebagai “syelamim”, yang berasal dari kata “syalom” yang berarti damai atau kesejahteraan. Selain itu, istilah “syelamim” berasal pula dari kata “syilem” yang berarti melunasi hutang atau membawa nazar. Jadi, umat yang berdosa dianggap seperti seorang yang sedang berhutang kepada Allah.

Itu sebabnya mereka harus membayar hutang mereka dengan korban “syelamim”, sehingga dapat terjadi karya pendamaian. Melalui korban pendamaian (syelamim) dimaksudkan untuk memelihara dan memperbaiki hubungan antara umat yang berdosa dengan Allah, dan terwujudlah suatu keadaan damai sejahtera dan selamat (syalom).

Sebenarnya kurang tepat menyatakan “Allah menjadi manusia”. Lebih tepat dalam penyataan Kristus, Allah melalui firmanNya berkenan menjadi manusia. Itu sebabnya Yoh. 1:14 mengungkapkan, “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”.

Pada satu sisi, kita sadar bahwa firman Allah yang menjelma menjadi Kristus pada hakikatnya adalah Allah (Yoh. 1:1). Tetapi pada sisi lain, firman Allah tersebut berbeda dengan Allah. Allah dan firman Allah memiliki keunikan-Nya sendiri. Dalam Perjanjian Lama, berulangkali dinyatakan bahwa “firman Tuhan” (dabar Yahweh) datang kepada nabi-nabi misalnya kepada nabi Yeremia (Yer. 1:4), Hosea (Hos. 1:1), Yunus (Yun. 1:1), Mikha (Mikh. 1:1), Zefanya (Zef. 1:1). Dalam pemahaman teologis ini firman Tuhan tetap dihayati sebagai pribadi Ilahi yang sehakikat dengan Allah, sehingga alam semesta dapat terjadi karena diciptakan oleh Firman Allah (Yoh. 1:3, Ibr. 11:3).

Allah dan FirmanNya Dalam Perjanjian Baru, karena Kristus adalah inkarnasi dari firman Allah yang menciptakan alam semesta dan manusia, tetapi manusia menolak-Nya, maka Injil Yohanes menyaksikan bahwa “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.

Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh. 1:10-11). Teologi Kristen tetap mengakui bahwa terdapat kesatuan yang hakiki antara Allah dan firman-Nya, serentak pula terdapat perbedaan di antara Allah dan firman-Nya; sehingga dalam Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel menyatakan relasi yang unik, intim dan tiada taranya antara Allah dengan Kristus, yaitu “diperanakkan, bukan dibuat, sehakikat dengan sang Bapa, yang dengan perantaraan-Nya, segala sesuatu dibuat; yang telah turun dari sorga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita”.

Itu sebabnya apa yang tidak mampu dilakukan oleh manusia, mampu dilakukan oleh Kristus bagi Allah. Di dalam kehidupan Kristus, Allah tidak hanya sekadar “berfirman dan memberi wahyu-Nya”, tetapi di dalam Kristus, Allah secara total dan personal hadir dalam realitas sejarah kehidupan manusia.

Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Tuhan Yesus dapat merasakan dan mengalami seluruh kelemahan-kelemahan manusiawi kita, tetapi hidup-Nya tetap kudus dan tanpa dosa (lihat Ibr. 4:15). Konsekuensinya, hanya Kristus yang dapat menjadi satu-satunya pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang (Ibr. 5:9).

Sebab melalui Kristus, Allah berkenan melimpahkan kasih karunia-Nya. Ibr. 4:16 berkata: “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih-karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya”.

Alasan mengapa “Allah menjadi manusia” dari sudut yang relasional yaitu: bahwa di dalam Kristus, Allah yang Mahatinggi secara hakiki berkenan menjadi sahabat bagi umat manusia. Sebab dalam keberdosaan dan kefanaannya, umat manusia berada dalam situasi yang terasing dan terbuang.

Manusia tidak hanya terasing dari sesama dan orang-orang di sekitarnya, tetapi dia juga terasing dengan dirinya sendiri dan terasing dengan Allah. Dengan keterasingan tersebut kehidupan manusia senantiasa ditandai oleh “keretakan-keretakan” spiritual yang membuat dia sering kehilangan makna dan tujuan hidupnya.

Selanjutnya, selama 30 tahun Kristus berprofesi sebagai “anak tukang kayu”. Maknanya adalah bahwa pekerjaan tukang kayu yang pada zaman itu dianggap kurang terhormat dan kurang suci; justru kini di dalam terang Kristus semua pekerjaan yang dianggap “duniawi” tersebut menjadi suatu pekerjaan yang setara dan sama sucinya dengan pekerjaan seorang imam atau ahli Taurat.

Martin Luther, dengan teologinya “Imamat Am Orang Percaya” menegaskan bahwa jabatan seorang imam atau pastor dan pendeta tidak lebih mulia daripada jabatan atau profesi seorang “awam”. Semua orang dalam setiap jabatan atau profesinya adalah seorang imam.

Oleh sebab itu, melalui inkarnasi Kristus, Allah telah menguduskan semua aspek kehidupan dalam sejarah umat manusia. Semua hal dan setiap bidang kehidupan manusia adalah kudus. Karena itu manusia dipanggil oleh Allah dengan anugerah-Nya untuk hidup kudus.

Dengan demikian, makin jelas bahwa alasan Allah menjadi manusia bukanlah sekadar untuk suatu kisah petualangan (adventure) teologis yang romantis dalam sejarah hidup manusia. Allah berkenan menjadi manusia juga bukan karena Dia ingin sekadar solider dengan penderitaan dan permasalahan manusia.

Tetapi dalam inkarnasi-Nya melalui Kristus, Allah memberi kepenuhan kasih karunia-Nya kepada umat yang percaya sehingga terciptalah suatu syalom, yaitu damai sejahtera dan keselamatan yang menyeluruh dalam kehidupan manusia. Allah berkenan menjadi manusia pada hakikatnya bertujuan untuk mengaruniakan keselamatan, yang tidak mungkin mampu dilakukan dengan usaha manusia.

Seandainya Allah tidak pernah menjadi manusia dalam inkarnasi Kristus, maka seluruh umat manusia dengan agama dan kepercayaan serta semua prestasi rohaninya tetap berada di bawah hukuman dan murka Allah. Akhirnya, refleksi kita pada Natal 2014 ini adalah “Jika Allah menjadi manusia, maka manusia mau jadi apa?” Selamat Natal!
(Victory News, Dec 27, 2014)
Share:

TAHUN BARU DAN REFLEKSI RUANG PUBLIK

KITA baru beberapa hari berada di tahun baru 2015. Di seluruh dunia disibukkan dengan berbagai perayaan menyambut tahun baru, hingga menggelontorkan uang yang tidak sedikit. Tidak hanya dalam skala yang kecil seperti perorangan atau kolompok, beberapa negara juga menyisihkan dana yang tidak sedikit demi acara tersebut.

Di kampung dan keluarga yang miskin sekalipun, beberapa keluarga rela menyisihkan uang hingga ratusan ribu rupiah untuk merayakan tahun baru. Akhirnya keramaian pesta kembang api menandakan waktu pergantian tahun.  Namun demikian, ada hal yang sebenarnya lebih berarti dan mendasar dalam merayakan pesta tahun baru.

Masyarakat harus mulai diarahkan untuk merayakan sesuatu secara lebih berarti, bahkan bermanfaat.  Refleksi seperti apa yang harus dilakukan dalam merayakan pergantian tahun? Pertanyaan ini hanya menjadi sebuah stimulan demi sebuah paradigma perayaan tahun baru yakni bermakna, sekaligus lebih bermanfaat.

Refleksi hidup di tahun yang baru harus diarahkan pada sebuah refleksi pada pemaknaan hidup bersama di tahun lalu dan membangun sebuah harapan hidup yang adil di tahun yang baru. Merefleksikan Kehidupan Publik Perayaan tahun baru harus diisi dengan perayaan refleksi tentang kehidupan bersama pada tataran ruang publik.

Ruang publik bukan hanya berarti lokus atau tempat publik (tanah) di mana setiap orang melakukan aktivitas bersama.  Ruang publik dalam diskusi ini berarti ruang di mana setiap orang berdiskusi sekaligus menyumbangkan kemampuannya demi terbentuknya negara yang teratur dan adil.

Hannah Arendt menekankan bahwa ruang publik tidak lagi merupakan tempat aktualisasi manusia karena kebohongan, intimidasi, dan ancaman. Ruang publik pada akhirnya harus menciptakan sebuah keadaan polos manusia dan hidup dalam sebuah politik santun.

Tahun yang baru harus diisi dengan sebua refleksi pada dua substansi hidup bersama yakni pada tataran politik dan tataran moral. Pertama, dalam ranah politik, refleksi tahun yang baru harus diarahkan pada terciptanya ruang publik yang diisi dengan diskusi politik dan wacana politik yang harus sampai pada sebuah pemurnian politik.

Pemurnian politik yang dimaksud adalah bahwa politik harus mulai meninggalkan gaya lama yang sangat pragmatis dan membuka ruang bagi terciptanya hidup bersama yang lebih berkualitas.  Refleksi politik adalah upaya untuk mendengarkan, mengkritisi, sekaligus mengevaluasi segala praktik politik yang telah terjadi di tahun silam.

Adanya gap atau pemisahan politik di masa Pemilihan Umum Presiden pada 2014, hingga adanya perpecahan antara kubu-kubu di DPR RI harus menjadi fokus refleksi politik tahun baru ini.  Refleksi pada tataran politik juga harus sampai pada diskusi politik yang saling memberi masukan sekaligus kritik antara rakyat dengan rakyat, rakyat dengan pemerintah, rakyat dengan wakil rakyat, hingga wakil rakyat dengan pemerintah.

Refleksi politik seperti inilah yang dapat  membuat setiap pribadi (dalam kapasitas dirinya) memberikan tenaga dan pikiran demi tebentuknya sebuah keteraturan dalam negara yakni keteraturan di ruang publik. Refleksi politik di akhir tahun menjadi sebuah hal yang baik sehingga segala kejanggalan politik, termasuk praktik politik kotor harus segera dibalikkan menjadi sebuah politik hidup bersama, yakni demi kehidupan bersama yang lebih baik.

Kedua, pada tataran moral, refleksi tahun baru harus diisi dengan sebuah refleksi moral yakni ketika setiap orang harus keluar dari egonya dan berani “mendengarkan” orang lain. Mendengarkan orang lain berarti memberi ruang kepada orang lain untuk bisa hidup sesuai dengan hak hidupnya.

Mendengarkan orang lain berarti hidup keluar dari segala kerakusan untuk mengambil hak orang lain dan berani untuk menciptakan sebuah kehidupan yang lebih damai. Mendengarkan orang lain berarti berani hidup bersama dengan orang lain tanpa mau menindas dan melukai yang lain.

Kasus korupsi yang sedang marak terjadi di Indonesia harus tetap menjadi perhatian pada tataran moral yakni bagaimana setiap pribadi memberi hak hidup bagi orang lain sesuai dengan haknya sendiri. Tidak hanya itu, di NTT misalnya, beberapa masalah krusial seperti human trafficking yang masih mendera agar segera diselesaikan dengan benar dan adil.

Kepekaan Pemerintah Provinsi NTT terhadap kehidupan riil masyarakat NTT, juga tetap mejadi patokan awal dalam merefleksikan tahun yang lalu, sekaligus menyambut tahun yang baru. Orang bijak selalu menekankan bahwa hidup yang tidak direfleksikan, tidak pantas dihidupkan.

Dengan demikian, hidup butuh refleksi demi pemurnian hidup itu sendiri. Kedua refleksi di atas ditujukan untuk menciptakan sebuah ruang publik yang damai, di mana setiap orang bisa hidup bebas sesuai dengan hak dan kewajibannya.  Tahun baru harus disertai dengan sebuah kemauan untuk berubah.

Perubahan mendasar adalah perubahan diri yang rela berbagi dengan orang lain, entah dalam tataran politik, juga pada tataran kehidupan moral setiap orang. Setiap orang harus segera mungkin merefleksikan kedua dasar hidup di atas.

Jika tidak, tahun baru 2015 hanyalah pergantian waktu tanpa ada inti perubahan hidup bersama, terkhusus hidup dalam sebuah negara. Kerinduan akan politik yang lebih mengakar dan hidup yang lebih saling menghormati adalah inti refleksi di tahun baru ini. Selamat Tahun Baru 2015!(Victory News,03/01/2015)
Share:

Pil Pahit dari RSUD



ENTAH apa yang ada dalam benak Presiden Jokowi saat melakukan blusukan kilat ke RSUD WZ Johannes. Ia memeriksa sebuah toilet dan mendapatinya tanpa air, kotor, dan sumpek. Air sebagai kebutuhan dasar saja tidak terpenuhi. Reaksinya datar tanpa ekspresi kemarahan, apalagi menyinggung perasaan kepala daerah yang berada tepat di sebelahnya.

Menanggapi celotehan wartawan yang melempar pertanyaan, apakah akan lebih baik bila RSUD dikelola oleh Pemerintah Pusat, Jokowi hanya mengulangi keinginan Pemprov yang telah mengajukan proposal dana ke Pusat. Jawaban ceplas-ceplos khas Jokowi namun harus dibaca serius oleh Pemprov, pengelola RSUD. Kendati tersamar, Presiden ingin mengatakan bila RSUD harus diselamatkan.

Yang mana bakal jadi solusi; proposal atau mengalihkan RSUD ke tangan Pusat? Niat baik Pemprov mengajukan proposal dana perbaikan sarana RSUD perlu kita apresiasi kendati berbenturan dengan keraguan publik manakala cara serupa berulang kali dilakukan tanpa perubahan citra kerja RSUD. Tak dielak, proposal itu terkesan dan bahkan dicap bagai kertas proyek ketimbang usulan perbaikan kinerja.

Opsi menjatuhkan RSUD ke dalam kendali Pemerintah Pusat pun mencuat. Pilihan yang tentunya tidak perlu dianggap sebagai tamparan keras ke wajah Pemprov, yang seakan-akan dinilai tidak mampu mengurusnya secara becus. Namun, waktu yang adalah induk kebenaran pun menggelar semua cerita kegagalannya, kisah salah urus dan salah kelola.

RSUD itu toh bukannya kebanjiran apresiasi namun diserang kritikan bertubi-tubi dan bahkan umpatan. Pilihan yang mengingatkan kita pada RS Hasan Sadikin-Bandung, RS Pertamina-Jakarta, RS Sanglah-Bali dan beberapa RSUD lainnya.

Beberapa daerah itu legowo dan mengakui ketidakmampuannya mengurus RSUD masing-masing dan lantas mengambil jalan yang dirasa cukup bijak yakni merelakan Pempus mengambil alih. Alhasil, perbaikan kinerja, manajemen dan sarana pelayanan pun terjadi.

Kiranya visitasi Presiden Jokowi, kritikan dan bahkan umpatan publik, pengawasan Dewan dan kicauan para pemerhati pelayanan publik dapat memacu Pemprov, pihak pengelola RSUD bekerja lebih baik. Opsi proposal ataupun pemindahan tangan ke Pempus hanyalah cara. Yang sangat dibutuhkan publik saat ini adalah perombakan manajemen, perbaikan mutu pelayanan, dan pemenuhan sarana yang memadai.

Kendati terasa seperti menelan pil pahit, paragladiator Romawi kuno berani mengakui kelebihan lawan dan dengan legowo menyerahkan pimpinan perang pada pemenang pertarungan pedang. Pesannya, andai kata Pemprov belum mampu mengurus RSUD maka lebih bijak mengikuti jalan beberapa RSUP tersebut di atas. Bila merasa mampu maka tunjukkan kinerja pelayanan, manajemen, dan fasilitas terbaik.(Victory News
Dec 29, 2014)
Share:

PESAN DARI TRAGEDI AirAsia QZ 8501 UNTUK NTT

TAHUN 2014 menjadi tahun kelabu bagi dunia penerbangan. Betapa tidak, sejumlah tragedi jatuhnya pesawat membuat dunia berduka. Sebuah Malaysia airline lenyap tak berjejak, satu tertembak jatuh dan kini AirAsia menelan korban ratusan penumpang. Ada human error ditambah faktor cuaca.

Kita hanya menundukkan kepala sembari berbenah dan memetik pelajaran tentang keselamatan. Jatuhnya AirAsia QZ 8501 membunyikan lonceng kewaspadaan bagi setiap insan di mana pun. Gejolak
alam tak kuasa kita tolak namun dapat kita hindari dengan kesiagaan dan pencegahan.

Cuaca ekstrem memaksa kita semua untuk lebih berwaspada. Layaklah bila Indonesia, khususnya NTT menyimak tragedi AirAsia naas itu sebagai tragedi renungan dan bahan pelajaran, selain berkabung. NTT wajib memetik hikmahnya tentang betapa pentingnya tindakan pencegahan agar daftar kecelakaan transportasi tidak bertambah menimbang daerah ini masuk dalam kategori rawan bencana yang cukup tinggi.

Siklus cuacanya ekstrem; musim kering dan hujan keduanya sama-sama bermuatan musibah yang cukup tinggi. Bencana di musim kering sama beratnya dengan musim hujan. Artinya, dibutuhkan upaya penanggulangan yang ekstra keras. Tragedi QZ8501 menjadi alarm membangunkan kita semua bekerja keras mengantisipasi kecelakaan.

Peringatan keras itu tepatnya buat Pemda di NTT guna membenahi aktivitas dan sarana transportasi baik darat, laut maupun udara. Beberapa tragedi tenggelamnya kapal-kapal, longsor dan banjir tahun-tahun belakangan ini wajib kita pakai sebagai cermin untuk melihat kekurangan yang ada.

Dibutuhkan koordinasi komprehensif antar dinasdinas terkait dan badan penanganan bencana alam baik via program mendesak maupun program jangka panjang. Program mendesak dengan gerakan cepat dinas terkait mensosialisasikan kewaspadaan itu baik dalam bentuk peringatan, larangan maupun publikasi titik-titik rawan baik laut, darat maupun udara guna mencegah jatuhnya korban.

Upaya ini pun mesti disambut baik oleh pihak-pihak penjual jasa transportasi, baik milik swasta maupun pemerintah. Program jangka panjang dengan pemantapan dan pembenahan sarana dan prasarana transportasi yang memadai. Catatan pentingnya adalah bahwa 14 lapangan terbang yang ada di NTT sangat membutuhkan perbaikan dan penyempurnaan serius guna memberi kenyamanan dan keselamatan penerbangan.

Program ini bukan semata reaksi atas tragedi AirAsia naas itu namun menjadi kebutuhan berkelanjutan bagi terbentuknya transportasi yang aman, nyaman, dan menyelamatkan. Mari memutuskan duka kecelakaan dengan meningkatkan kewaspadaan dan tindakan antisipatif dengan mendorong badan penanggulangan bencana dan dinas-dinas terkait untuk secepatnya mensosialisasikan antisipasi bencana baik melalui peringatan, larangan atau dalam bentuk apa pun. Tragedi AirAsia itu meninggalkan pesan mendalam bahwa keselamatan adalah segalanya.(VN/03/01/2015)
Share:

KADO SPESIAL YANG TAK SPESIAL

ADA yang luar biasa pada perayaan Hari Ulang Tahun NTT tahun ini. Tak tanggung-tanggung, orang nomor satu di Republik ini, Presiden Joko Widodo hadir di Kota Kupang menyemarakkan HUT NTT ke-56 dengan membawa kado sejumlah kue pembangunan. Beberapa menteri dan dua gubernur hebat  Ahok dari DKI Jakarta dan Ganjar Pranowo dari Jawa Tengah  pun dibawa serta.
Bendungan Raknamo, launching Rumah Sakit Siloam, blusukan di pasar tradisional merupakan sebagian kado ultah yang diberikan spesial kepada NTT. Tentu saja harapan publik NTT, kedatangan Jokowi tidak hanya habis di perayaan HUT, tapi memberikan dampak jangka panjang bagi kemajuan daerah ini.
Tidak sekadar meninggalkan proyek, lebih dari itu, kehadiran Jokowi beserta Ahok dan Ganjar diharapkan pula bisa menginspirasi para pemimpin di daerah ini untuk menjadi pemimpin-pemimpin
hebat, yang benar-benar pro rakyat.
Jokowi boleh hebat sebagai Presiden, tapi dampak kehebatan dan perhatiannya pada NTT tidak akan berarti banyak bagi kemajuan NTT jika pemimpin daerah ini tidak mampu menerjemahkan esensi kepemimpinan pro rakyat yang melekat dalam diri seorang Jokowi.
Provinsi NTT punya segudang potensi untuk maju bersaing dengan daerah mana pun di Tanah Air. Kalau selama ini NTT ketinggalan jauh dibanding banyak daerah lain, itu bukan karena daerah ini kekurangan potensi. Dari sisi sumber daya alam, NTT punya begitu banyak potensi. Sebut saja, laut yang begitu luas dan kaya serta objek pariwisata yang begitu beragam dan indah, yang hingga kini belum mendapat sentuhan semestinya.
Dari sisi sumber daya manusia, daerah ini punya begitu banyak orang hebat yang mampu dan sukses bersaing di kancah nasional bahkan internasional dalam berbagai bidang kehidupan. Kalau mau jujur, ada satu faktor utama yang membuat NTT masih hidup dalam stigma Nasib Tidak Tentu, Nusa Tertinggal Terus, Nanti Tuhan Tolong yakni belum hadirnya pemimpin yang benar-benar hebat dan pro rakyat.
NTT masih merindukan pemimpin idaman, yang mampu mensinergikan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia menjadi energi yang menghidupkan dan menyejahterakan rakyatnya. Harus diakui NTT sempat punya dua gubernur yang cukup mumpuni, yakni El Tari dan Ben Mboi. Namun sayang, jejak keduanya terputus akibat tidak dinapaktilasi oleh pemimpin generasi berikutnya.
Tak heran, hari ini NTT masih dikuasai pemimpin-pemimpin yang gemar mengkomoditaskan kemiskinan. Inilah yang menjadi faktor utama mengapa kemiskinan masih senantiasa menjadi sahabat banyak orang di sini. Masih banyak pemimpin di NTT yang tak malu hidup dalam gelimang kemewahan di tengah rakyat yang menderita.
Kabar teraktual, Pemprov dengan restu DPRD NTT, akan menggelontorkan dana APBD sebesar Rp 176 miliar untuk membangun kantor baru gubernur di Jalan El Tari yang tahun lalu hangus dibakar secara misterius. Padahal, pada saat ini, Pemprov pun sedang membangun kantor lama gubernur di Jalan Basuki Rahmat senilai Rp 36 miliar.
Sungguh ironis! Berangkat dari realitas sejauh ini, tak berlebihan rasanya jika kita berharap kehadiran Jokowi pada HUT NTT ke-56 ini, tidak hanya habis di seremonial belaka. Kado spesial Jokowi hanya punya makna jika gaya kepemimpinannya yang pro rakyat, mampu dibumikan oleh para pemimpin di NTT. Selamat Ultah!(VN/20/12/2014)
Share:

Sabtu, 03 Januari 2015

Rindu Kampung Halaman

Elyne Halimaking

Tulisan ini terinspirasi ketika ponakanku Linche Langoday dan anakku Elin Halimaking memposting foto suasana desaku... LEWO WATAN WAIWARU, TANA NAMAN SELAN LILI...
Telah lama aku jauh dari desa kesejukan cinta. Pergi merantau ke negeri orang yang belum tentu ranah keabadian cintanya. Sungguh kurindu ‘tuk kembali pulang berjumpa dengan keluarga tercinta. Masih adakah kesempatan untuk kembali ke sana? Kurindukan bulan dan bintangnya bersinar indah dengan terangnya. Desa kesejukanku yang tercinta, walau penuh kesederhanaan, sungguh itulah kelebihan anugerah dari Tuhan yang Kuasa.


Lynche Langoday

Bilakah rindu kampung halaman, namun hanya kerinduan yang hanya bayangan masa lalu desa tempat kelahiran kita. Ingin rasanya kembali di tengah suasana modern kini. Namun jauh untuk menuju tempat itu walau kini berada dalam desa yang telah berubah.
Merindukan masa kecil di kampung kelahiran adalah menggali kenangan dan bahkan budaya yang kian berubah dan bergnti. Budaya desa juga menjadi cirri melekat kerinduan itu pada desa kita dimana pun kita berada.Namun kenyataan kini sudah banyak berubah banyak budaya desa yang sulit dipertahankan.
Oh..Desaku Tercinta
Langit terbentang luas membahana…
Mentari tersenyum diantara kumpulan awan-awan…
Desa Indah Berjuta Kenangan
Desa yang pernah menjadi permaidani langkahku
Di sini aku mulai mengenal kehidupan Di sini aku kenali ...
Betapa syahdunya cinta
Betapa indah manisnya asmara
Di sini ku nikmati kejujuran kasih sayang ayah dan ibu
Biar berjuta tahun lagi
Desa ini tetap di hati Aku

Kini…
Aku jauh darinya…
Menggapai mimpi menjalankan niat…
Ku ingin pulang…
Aku rindu suasana desaku…
Share:

TARIAN SOLE OHA YANG TAK LAGI DI MINATI KAUM MUDA

Rumah adat Lewohala yang semula beratap daun kelapa atau alang-alang, kini diganti seng, produk pabrikan. Beberapa dinding rumah yang semula kayu juga berubah wujud jadi tembok dan dibeton. Foto: FBC/Yogi Making

Meski dianggap sebuah keniscayaan, modernitas perlahan tapi pasti terus menggerus budaya lokal, tak terkecuali di Kampung Adat Lewohala. Bagaimana perubahan perilaku sosial yang terjadi di sana?
SITUS Kampung Adat Lewohala secara geografis berlokasi di Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata. Dengan jarak tempuh dari Desa Jontona sekitar 3 kilo meter, sedangkan dari kota Lewoleba (Ibu Kota Kabupaten Lembata), mencapai 20-an kilo meter.
Kampung tua Lewohala, merupakan kampung adat tempat digelarnya pesta kacang, ritual tahunan yang digelar untuk mensyukuri anugrah dari Yang Maha Kuasa yang di terima anak keturunan Lewohala. Masyarakat adat Lewohala, dapat dikatakan bagian dari tidak banyak kearifan lokal yang masih “tersisa” di Kabupaten Lembata.
Ketangguhan iman masyarakatan adat Lewohala untuk tetap mempertahankan budaya “werung lolong” (pesta kacang) misalnya, adalah sebuah kehebatan yang jarang dimiliki oleh masyakat modern. Namun, entah disadari atau tidak, arus modernisasi dengan segala aspek positif dan negatifnya, telah menimbulkan perubahan perilaku sosial bahkan berpengaruh pada perubahan pola pikir masyakat.
Tidak terkecuali di pelosok desa sekali pun. Dan, masyarakat adat Lewohala yang dahulunya patuh terhadap nilai adat, lambat laun dihanyutkan oleh derasnya arus modernisasi.
Betapa tidak, sebagaimana disaksikan FBC, Kamis (24/10/2013), banyak keaslian budaya Lewohala sebagai warisan berharga para pendahulu kian memudar, bahkan terkesan tidak lagi dijaga keasliannya.
Dari 77 rumah adat di kampung asli orang Lewohala ini, ada beberapa rumah yang bersalih rupa secara drastis. Walau tetap mempertahankan bentuk aslinya, namun bahan pembuat rumah yang sejatinya dari kayu dan bambu kini tergantikan dengan balok-balok beton, bagitu juga dengan bahan atap. Seng menggantikan daun kelapa dan alang-alang sebagai penutup rumah.
Perubahan mengikuti arus jaman itu, ternyata juga tampak pada cara orang Lewohala berbusana. Jika dahulu, kaum hawanya membalut tubuh dengan sarung tenunan sendiri, kini busana ketat buatan pabrik menggantikan sarung. Bahkan, kebare (anak gadis) Lewohala tak lagi pandai menjalin benang menjadi sarung.
Terkikis lalu Hilang
Kekayaan budaya Lewohala lain yang juga semakin terkikis zaman adalah, kesenian Oha Sole, dan Hamang, dua tarian tradsional yang syarat makna ini, kini mulai hilang. Generasi Lewohala yang lahir sebelum tahun 1970-an tak banyak lagi, bahkan dapat dikatakan tak ada yang tahu menyanyikan lagu Oreng, syair syarat makna, yang dinyanyikan saat menarikan Oha Sole.
Generasi sekarang, bahkan lebih menggandrungi budaya luar, budaya asli Lewohala ditinggalkan. Komentar beberapa tokoh Lewohala kepada FBC, orang muda hanya bisa menjadi penonton, ketika para sepuhnya menarikan Sole Oha.


Kenyataan ini, kian mencemaskan para sesepuh Lewohala. Beberapa tokoh adat mencemaskan akan hilangnya budaya asli Lewohala ini. Menurut mereka, memudarnya kearifan lokal orang Lewohala, selalu didiskusikan dalam setiap momen pesta kacang, namun hingga kini belum ada sebuah tindakan nyata untuk mengembalikan kejayaan budaya masa lampau ini.
“Saya sadar kalau sekarang ini, banyak keaslian budaya di kampung ini mulai berubah mengikuti perkembangan zaman. Karena itu ada semacam ketakutan pribadi saya, jangan sampai generasi berikutnya tidak lagi mempertahankan budaya pesta kacang sebagai warisan leluhur,” ujar pemangku adat Lewohala, Stefanus Lodan Halimaking.
Ketakutan pemangku adat ini, sebenarnya sudah menjadi kegelisahan bersama orang Lewohala, bahkan mereka sadar jika ketidakberdayaan untuk menghadapi tekanan zaman, sama saja dengan melecehkan budaya sendiri.
Apalagi, perubahan itu terjadi ditengah gencarnya kampanye pariwisata oleh Pemerintah Kabupaten Lembata. Situs rumah adat Lewohala, bahkan ditetapkan menjadi salah satu destinasi unggulan di Kabupaten Lembata.
“Memang zaman sudah berubah, tetapi sebagai manusia berbudaya, mestinya kita harus menjaga dan melestarikan budaya. Jika rumah adat sebagai simbol budaya Lewohala digantikan dengan bahan buatan pabrik, itu sama saja dengan kita merusak budaya sendiri,” ucap Gabriel Lele Soromaking diamini tokoh adat lainnya.
Peran Bele Raya
Bele Raya (pemimpin) Lewohala teridiri dari empat suku yakni, Hali Making, Soro Making, Dulimaking, dan Domaking. Empat suku ini, memainkan peran penting untuk menjalin keutuhan dan kelestarian budaya Lewohala.
Bele Raya pada zaman dahulu, -sebelum hadir pemerintahan modern- tampil sebagai orang yang sangat disegani. Hal yang disampaikan adalah titah yang wajib dilaksanakan oleh rakyatnya. Dalam hal menyelesaikan sengketa antar warga misalnya, Bele Raya punya cara sendiri untuk menyelesaikannya. Keputusan yang diambil, adalah keputusan yang benar berdasar asas keadilan. Keputusan yang dibuat, diterima sebagai kebenaran bersama dan karena itu tidak menimbulkan dendam antar sesama warga karena pembuktian akan kebenaran itu dilakukan melalui ritual adat.
Begitu juga dengan urusan pemerintahan, perintah diturunkan secara berjenjang. Awalnya perintah diturunkan oleh Raya kepada kepada Bele, dan selanjutnya Bele melanjutkan perintah itu kepada masyarakat. Raya bahkan tak pernah berurusan dengan masyarakat.
Bele Raya, bahkan membagi peran kepada semua suku yang berada di bawah naungan pemerintahan mereka, ibarat membagi divisi dalam sebuah struktur organisasi modern. Setiap devisi bertanggung jawab langsung kepada Bele Raya. Menariknya, peran yang dibagikan Bele Raya tidak bisa diambil oleh suku lain.
Jika ada yang merampas peran, suku tersebut akan mendapat bala, bahkan dapat berakibat kematian.
Namun demikian, sering perkembangan zaman dan perubahan politik negara, peran Bele Raya tergantikan oleh pemerintahan modern, di mana pada tingkat desa dipimpin oleh seorang kepala desa dengan perangkat-perangkat pemerintahan di bawahnya.
“Kondisi sekarang berbeda dengan di masa lampau, masa Orde Lama, hingga Orde Baru. Dulu pemerintahan desa sangat kuat, keadaan itu berbeda dengan sekarang, pemerintahan kepala desa sangat rapuh. Salah satu penyebabnya adalah tidak ada dukungan atau restu dari Bele Raya,” ujar Marsel Tuan, tokoh adat di Desa Jontona.
Menurutnya, restu Bele Raya adalah restu leluhur “Lewotana” (kampung halaman), Marsel dalam kesempatan itu, mengungkap beberapa fakta, di mana pemerintahan masa lampau di Desa Jontona bahkan bertahan hingga beberapa periode, di mana saat itu kepala desa berasal dari kalangan Bele Raya.
Bele Raya yang tergantikan oleh pemerintahan modern, ternyata juga berdampak negatif terhadap peran Bele Raya sebagai pemangku adat dalam sebuah komunitas adat. Betapa tidak, berbagai persoalan di desa yang berhubungan dengan urusan adat, diambil alih oleh kepala desa.
Akibatnya, banyak hal yang diputuskan oleh kepala desa ditentang rakyatnya sendiri. Bahkan dalam urusan penyelesaian sengketa misalnya, kemudian menimbulkan dendam yang berkepanjangan. Jika “pencaplokan” peran itu terus terjadi, maka dikhawatirkan, kekayaan budaya Lewohala akan sirna. (*)Penulis: Yogi Making (Sumber; http://www.floresbangkit.com)

Meski dianggap sebuah keniscayaan, modernitas perlahan tapi pasti terus menggerus budaya lokal, tak terkecuali di Kampung Adat Lewohala. Bagaimana perubahan perilaku sosial yang terjadi di sana?

SITUS Kampung Adat Lewohala secara geografis berlokasi di Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata. Dengan jarak tempuh dari Desa Jontona sekitar 3 kilo meter, sedangkan dari kota Lewoleba (Ibu Kota Kabupaten Lembata), mencapai 20-an kilo meter.

Kampung tua Lewohala, merupakan kampung adat tempat digelarnya pesta kacang, ritual tahunan yang digelar untuk mensyukuri anugrah dari Yang Maha Kuasa yang di erima anak keturunan Lewohala. Masyarakat adat Lewohala, dapat dikatakan bagian dari tidak banyak kearifan lokal yang masih “tersisa” di Kabupaten Lembata.


Rumah adat Lewohala yang semula beratap daun kelapa atau alang-alang, kini diganti seng, produk pabrikan. Beberapa dinding rumah yang semula kayu juga berubah wujud jadi tembok dan dibeton. Foto: FBC/Yogi Making

Ketangguhan iman masyarakatan adat Lewohala untuk tetap mempertahankan budaya “werung lolong” (pesta kacang) misalnya, adalah sebuah kehebatan yang jarang dimiliki oleh masyakat modern. Namun, entah disadari atau tidak, arus modernisasi dengan segala aspek positif dan negatifnya, telah menimbulkan perubahan perilaku sosial bahkan berpengaruh pada perubahan pola pikir masyakat.
Tidak terkecuali di pelosok desa sekali pun. Dan, masyarakat adat Lewohala yang dahulunya patuh terhadap nilai adat, lambat laun dihanyutkan oleh derasnya arus modernisasi.

Betapa tidak, sebagaimana disaksikan FBC, Kamis (24/10/2013), banyak keaslian budaya Lewohala sebagai warisan berharga para pendahulu kian memudar, bahkan terkesan tidak lagi dijaga keasliannya.

Dari 77 rumah adat di kampung asli orang Lewohala ini, ada beberapa rumah yang bersalih rupa secara drastis. Walau tetap mempertahankan bentuk aslinya, namun bahan pembuat rumah yang sejatinya dari kayu dan bambu kini tergantikan dengan balok-balok beton, bagitu juga dengan bahan atap. Seng menggantikan daun kelapa dan alang-alang sebagai penutup rumah.

Perubahan mengikuti arus jaman itu, ternyata juga tampak pada cara orang Lewohala berbusana. Jika dahulu, kaum hawanya membalut tubuh dengan sarung tenunan sendiri, kini busana ketat buatan pabrik menggantikan sarung. Bahkan, kebare (anak gadis) Lewohala tak lagi pandai menjalin benang menjadi sarung.

Terkikis lalu Hilang
Kekayaan budaya Lewohala lain yang juga semakin terkikis zaman adalah, kesenian Oha Sole, dan Hamang, dua tarian tradsional yang syarat makna ini, kini mulai hilang. Generasi Lewohala yang lahir sebelum tahun 1970-an tak banyak lagi, bahkan dapat dikatakan tak ada yang tahu menyanyikan lagu Oreng, syair syarat makna, yang dinyanyikan saat menarikan Oha Sole.

Generasi sekarang, bahkan lebih menggandrungi budaya luar, budaya asli Lewohala ditinggalkan. Komentar beberapa tokoh Lewohala kepada FBC, orang muda hanya bisa menjadi penonton, ketika para sepuhnya menarikan Sole Oha.

Kenyataan ini, kian mencemaskan para sesepuh Lewohala. Beberapa tokoh adat mencemaskan akan hilangnya budaya asli Lewohala ini. Menurut mereka, memudarnya kearifan lokal orang Lewohala, selalu didiskusikan dalam setiap momen pesta kacang, namun hingga kini belum ada sebuah tindakan nyata untuk mengembalikan kejayaan budaya masa lampau ini.

“Saya sadar kalau sekarang ini, banyak keaslian budaya di kampung ini mulai berubah mengikuti perkembangan zaman. Karena itu ada semacam ketakutan pribadi saya, jangan sampai generasi berikutnya tidak lagi mempertahankan budaya pesta kacang sebagai warisan leluhur,” ujar pemangku adat Lewohala, Stefanus Lodan Halimaking.

Ketakutan pemangku adat ini, sebenarnya sudah menjadi kegelisahan bersama orang Lewohala, bahkan mereka sadar jika ketidakberdayaan untuk menghadapi tekanan zaman, sama saja dengan melecehkan budaya sendiri.

Apalagi, perubahan itu terjadi ditengah gencarnya kampanye pariwisata oleh Pemerintah Kabupaten Lembata. Situs rumah adat Lewohala, bahkan ditetapkan menjadi salah satu destinasi unggulan di Kabupaten Lembata.

“Memang zaman sudah berubah, tetapi sebagai manusia berbudaya, mestinya kita harus menjaga dan melestarikan budaya. Jika rumah adat sebagai simbol budaya Lewohala digantikan dengan bahan buatan pabrik, itu sama saja dengan kita merusak budaya sendiri,” ucap Gabriel Lele Soromaking diamini tokoh adat lainnya.

Peran Bele Raya
Bele Raya (pemimpin) Lewohala teridiri dari empat suku yakni, Hali Making, Soro Making, Dulimaking, dan Domaking. Empat suku ini, memainkan peran penting untuk menjalin keutuhan dan kelestarian budaya Lewohala.

Bele Raya pada zaman dahulu, -sebelum hadir pemerintahan modern- tampil sebagai orang yang sangat disegani. Hal yang disampaikan adalah titah yang wajib dilaksanakan oleh rakyatnya. Dalam hal menyelesaikan sengketa antar warga misalnya, Bele Raya punya cara sendiri untuk menyelesaikannya. Keputusan yang diambil, adalah keputusan yang benar berdasar asas keadilan.

Keputusan yang dibuat, diterima sebagai kebenaran bersama dan karena itu tidak menimbulkan dendam antar sesama warga karena pembuktian akan kebenaran itu dilakukan melalui ritual adat.

Tarian Oha Sole yang sarat makna, kini mulai tidak diminati kaum muda yang lahir setelah tahun 1970-an. Foto: FBC/Yogi Making

Begitu juga dengan urusan pemerintahan, perintah diturunkan secara berjenjang. Awalnya perintah diturunkan oleh Raya kepada kepada Bele, dan selanjutnya Bele melanjutkan perintah itu kepada masyarakat. Raya bahkan tak pernah berurusan dengan masyarakat.

Bele Raya, bahkan membagi peran kepada semua suku yang berada di bawah naungan pemerintahan mereka, ibarat membagi divisi dalam sebuah struktur organisasi modern. Setiap devisi bertanggung jawab langsung kepada Bele Raya. Menariknya, peran yang dibagikan Bele Raya tidak bisa diambil oleh suku lain.
Jika ada yang merampas peran, suku tersebut akan mendapat bala, bahkan dapat berakibat kematian.

Namun demikian, sering perkembangan zaman dan perubahan politik negara, peran Bele Raya tergantikan oleh pemerintahan modern, di mana pada tingkat desa dipimpin oleh seorang kepala desa dengan perangkat-perangkat pemerintahan di bawahnya.

“Kondisi sekarang berbeda dengan di masa lampau, masa Orde Lama, hingga Orde Baru. Dulu pemerintahan desa sangat kuat, keadaan itu berbeda dengan sekarang, pemerintahan kepala desa sangat rapuh. Salah satu penyebabnya adalah tidak ada dukungan atau restu dari Bele Raya,” ujar Marsel Tuan, tokoh adat di Desa Jontona.

Menurutnya, restu Bele Raya adalah restu leluhur “Lewotana” (kampung halaman), Marsel dalam kesempatan itu, mengungkap beberapa fakta, di mana pemerintahan masa lampau di Desa Jontona bahkan bertahan hingga beberapa periode, di mana saat itu kepala desa berasal dari kalangan Bele Raya.

Bele Raya yang tergantikan oleh pemerintahan modern, ternyata juga berdampak negatif terhadap peran Bele Raya sebagai pemangku adat dalam sebuah komunitas adat. Betapa tidak, berbagai persoalan di desa yang berhubungan dengan urusan adat, diambil alih oleh kepala desa.

Akibatnya, banyak hal yang diputuskan oleh kepala desa ditentang rakyatnya sendiri. Bahkan dalam urusan penyelesaian sengketa misalnya, kemudian menimbulkan dendam yang berkepanjangan. Jika “pencaplokan” peran itu terus terjadi, maka dikhawatirkan, kekayaan budaya Lewohala akan sirna. (*)

Penulis: Yogi Making
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2013/10/dan-kampung-adat-lewohala-pun-bersalih-rupa/#sthash.xXo08IKg.dpuf
Meski dianggap sebuah keniscayaan, modernitas perlahan tapi pasti terus menggerus budaya lokal, tak terkecuali di Kampung Adat Lewohala. Bagaimana perubahan perilaku sosial yang terjadi di sana?

SITUS Kampung Adat Lewohala secara geografis berlokasi di Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata. Dengan jarak tempuh dari Desa Jontona sekitar 3 kilo meter, sedangkan dari kota Lewoleba (Ibu Kota Kabupaten Lembata), mencapai 20-an kilo meter.

Kampung tua Lewohala, merupakan kampung adat tempat digelarnya pesta kacang, ritual tahunan yang digelar untuk mensyukuri anugrah dari Yang Maha Kuasa yang di erima anak keturunan Lewohala. Masyarakat adat Lewohala, dapat dikatakan bagian dari tidak banyak kearifan lokal yang masih “tersisa” di Kabupaten Lembata.


Rumah adat Lewohala yang semula beratap daun kelapa atau alang-alang, kini diganti seng, produk pabrikan. Beberapa dinding rumah yang semula kayu juga berubah wujud jadi tembok dan dibeton. Foto: FBC/Yogi Making

Ketangguhan iman masyarakatan adat Lewohala untuk tetap mempertahankan budaya “werung lolong” (pesta kacang) misalnya, adalah sebuah kehebatan yang jarang dimiliki oleh masyakat modern. Namun, entah disadari atau tidak, arus modernisasi dengan segala aspek positif dan negatifnya, telah menimbulkan perubahan perilaku sosial bahkan berpengaruh pada perubahan pola pikir masyakat.
Tidak terkecuali di pelosok desa sekali pun. Dan, masyarakat adat Lewohala yang dahulunya patuh terhadap nilai adat, lambat laun dihanyutkan oleh derasnya arus modernisasi.

Betapa tidak, sebagaimana disaksikan FBC, Kamis (24/10/2013), banyak keaslian budaya Lewohala sebagai warisan berharga para pendahulu kian memudar, bahkan terkesan tidak lagi dijaga keasliannya.

Dari 77 rumah adat di kampung asli orang Lewohala ini, ada beberapa rumah yang bersalih rupa secara drastis. Walau tetap mempertahankan bentuk aslinya, namun bahan pembuat rumah yang sejatinya dari kayu dan bambu kini tergantikan dengan balok-balok beton, bagitu juga dengan bahan atap. Seng menggantikan daun kelapa dan alang-alang sebagai penutup rumah.

Perubahan mengikuti arus jaman itu, ternyata juga tampak pada cara orang Lewohala berbusana. Jika dahulu, kaum hawanya membalut tubuh dengan sarung tenunan sendiri, kini busana ketat buatan pabrik menggantikan sarung. Bahkan, kebare (anak gadis) Lewohala tak lagi pandai menjalin benang menjadi sarung.

Terkikis lalu Hilang
Kekayaan budaya Lewohala lain yang juga semakin terkikis zaman adalah, kesenian Oha Sole, dan Hamang, dua tarian tradsional yang syarat makna ini, kini mulai hilang. Generasi Lewohala yang lahir sebelum tahun 1970-an tak banyak lagi, bahkan dapat dikatakan tak ada yang tahu menyanyikan lagu Oreng, syair syarat makna, yang dinyanyikan saat menarikan Oha Sole.

Generasi sekarang, bahkan lebih menggandrungi budaya luar, budaya asli Lewohala ditinggalkan. Komentar beberapa tokoh Lewohala kepada FBC, orang muda hanya bisa menjadi penonton, ketika para sepuhnya menarikan Sole Oha.

Kenyataan ini, kian mencemaskan para sesepuh Lewohala. Beberapa tokoh adat mencemaskan akan hilangnya budaya asli Lewohala ini. Menurut mereka, memudarnya kearifan lokal orang Lewohala, selalu didiskusikan dalam setiap momen pesta kacang, namun hingga kini belum ada sebuah tindakan nyata untuk mengembalikan kejayaan budaya masa lampau ini.

“Saya sadar kalau sekarang ini, banyak keaslian budaya di kampung ini mulai berubah mengikuti perkembangan zaman. Karena itu ada semacam ketakutan pribadi saya, jangan sampai generasi berikutnya tidak lagi mempertahankan budaya pesta kacang sebagai warisan leluhur,” ujar pemangku adat Lewohala, Stefanus Lodan Halimaking.

Ketakutan pemangku adat ini, sebenarnya sudah menjadi kegelisahan bersama orang Lewohala, bahkan mereka sadar jika ketidakberdayaan untuk menghadapi tekanan zaman, sama saja dengan melecehkan budaya sendiri.

Apalagi, perubahan itu terjadi ditengah gencarnya kampanye pariwisata oleh Pemerintah Kabupaten Lembata. Situs rumah adat Lewohala, bahkan ditetapkan menjadi salah satu destinasi unggulan di Kabupaten Lembata.

“Memang zaman sudah berubah, tetapi sebagai manusia berbudaya, mestinya kita harus menjaga dan melestarikan budaya. Jika rumah adat sebagai simbol budaya Lewohala digantikan dengan bahan buatan pabrik, itu sama saja dengan kita merusak budaya sendiri,” ucap Gabriel Lele Soromaking diamini tokoh adat lainnya.

Peran Bele Raya
Bele Raya (pemimpin) Lewohala teridiri dari empat suku yakni, Hali Making, Soro Making, Dulimaking, dan Domaking. Empat suku ini, memainkan peran penting untuk menjalin keutuhan dan kelestarian budaya Lewohala.

Bele Raya pada zaman dahulu, -sebelum hadir pemerintahan modern- tampil sebagai orang yang sangat disegani. Hal yang disampaikan adalah titah yang wajib dilaksanakan oleh rakyatnya. Dalam hal menyelesaikan sengketa antar warga misalnya, Bele Raya punya cara sendiri untuk menyelesaikannya. Keputusan yang diambil, adalah keputusan yang benar berdasar asas keadilan.

Keputusan yang dibuat, diterima sebagai kebenaran bersama dan karena itu tidak menimbulkan dendam antar sesama warga karena pembuktian akan kebenaran itu dilakukan melalui ritual adat.

Tarian Oha Sole yang sarat makna, kini mulai tidak diminati kaum muda yang lahir setelah tahun 1970-an. Foto: FBC/Yogi Making

Begitu juga dengan urusan pemerintahan, perintah diturunkan secara berjenjang. Awalnya perintah diturunkan oleh Raya kepada kepada Bele, dan selanjutnya Bele melanjutkan perintah itu kepada masyarakat. Raya bahkan tak pernah berurusan dengan masyarakat.

Bele Raya, bahkan membagi peran kepada semua suku yang berada di bawah naungan pemerintahan mereka, ibarat membagi divisi dalam sebuah struktur organisasi modern. Setiap devisi bertanggung jawab langsung kepada Bele Raya. Menariknya, peran yang dibagikan Bele Raya tidak bisa diambil oleh suku lain.
Jika ada yang merampas peran, suku tersebut akan mendapat bala, bahkan dapat berakibat kematian.

Namun demikian, sering perkembangan zaman dan perubahan politik negara, peran Bele Raya tergantikan oleh pemerintahan modern, di mana pada tingkat desa dipimpin oleh seorang kepala desa dengan perangkat-perangkat pemerintahan di bawahnya.

“Kondisi sekarang berbeda dengan di masa lampau, masa Orde Lama, hingga Orde Baru. Dulu pemerintahan desa sangat kuat, keadaan itu berbeda dengan sekarang, pemerintahan kepala desa sangat rapuh. Salah satu penyebabnya adalah tidak ada dukungan atau restu dari Bele Raya,” ujar Marsel Tuan, tokoh adat di Desa Jontona.

Menurutnya, restu Bele Raya adalah restu leluhur “Lewotana” (kampung halaman), Marsel dalam kesempatan itu, mengungkap beberapa fakta, di mana pemerintahan masa lampau di Desa Jontona bahkan bertahan hingga beberapa periode, di mana saat itu kepala desa berasal dari kalangan Bele Raya.

Bele Raya yang tergantikan oleh pemerintahan modern, ternyata juga berdampak negatif terhadap peran Bele Raya sebagai pemangku adat dalam sebuah komunitas adat. Betapa tidak, berbagai persoalan di desa yang berhubungan dengan urusan adat, diambil alih oleh kepala desa.

Akibatnya, banyak hal yang diputuskan oleh kepala desa ditentang rakyatnya sendiri. Bahkan dalam urusan penyelesaian sengketa misalnya, kemudian menimbulkan dendam yang berkepanjangan. Jika “pencaplokan” peran itu terus terjadi, maka dikhawatirkan, kekayaan budaya Lewohala akan sirna. (*)

Penulis: Yogi Making
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2013/10/dan-kampung-adat-lewohala-pun-bersalih-rupa/#sthash.xXo08IKg.dpuf
Share:
Flag Counter

Featured Post 3

Recent Posts

Unordered List

Pages

Theme Support